Yang pasti kita semua saling menginfokan untuk keluhan-keluhan di otomotif itu apa saja, ayo kita diskusikan dan forum ini kami buka terus. Kami buka terus untuk kita saling berkomunikasi.
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkuat pengujian teknis biodiesel 50 persen (B50) dan berdialog serta berkoordinasi dengan industri otomotif untuk memastikan implementasinya berjalan baik pada kendaraan yang digunakan masyarakat.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan koordinasi dengan industri otomotif diperlukan untuk menghimpun masukan terkait penggunaan B50, setelah kebijakan tersebut diterapkan.
"Yang pasti kita semua saling menginfokan untuk keluhan-keluhan di otomotif itu apa saja, ayo kita diskusikan dan forum ini kami buka terus. Kami buka terus untuk kita saling berkomunikasi," kata Eniya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.
Ia menyampaikan hal tersebut saat membuka Sosialisasi Aspek Teknis Implementasi B50 Sektor Otomotif di Tangerang Selatan.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga pertengahan September 2026 B50 telah disalurkan melalui 6.050 dari total 6.412 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), atau sekitar 94 persen.
Dari 104 terminal titik serah, sebanyak 76 terminal telah menyalurkan B50, sedangkan 28 terminal lainnya masih dalam tahap transisi dari B40 menuju B50.
Eniya mengatakan pemerintah menetapkan 30 September sebagai batas masa relaksasi implementasi B50, sehingga seluruh persiapan perlu dituntaskan menjelang 1 Oktober 2026.
"Sebentar lagi, tanggal 30 September itu merupakan deadline untuk kita melakukan relaksasi. Jadi persiapan semua sosialisasi, semua kegiatan mengenai implementasi B50 ini harus benar-benar kita siapkan menjelang nanti per 1 Oktober," ujarnya.
Selain memastikan kesiapan distribusi, Kementerian ESDM memperketat spesifikasi biodiesel yang digunakan untuk pencampuran B50 dibandingkan dengan B40.
Penguatan spesifikasi tersebut, antara lain dilakukan melalui penurunan batas maksimum kandungan air dan peningkatan persyaratan stabilitas oksidasi untuk mendukung kualitas bahan bakar.
Kementerian ESDM juga membahas pengawasan kualitas, hasil uji B50, pedoman umum penanganan dan penyimpanan, serta instruksi kerja teknis sektor otomotif guna menyamakan pemahaman antar-pemangku kepentingan.
Untuk memperkuat basis teknis, Eniya mendorong kolaborasi dengan industri otomotif dalam pengumpulan data penggunaan B50 pada kendaraan hingga menempuh jarak 100.000 kilometer (km).
Pemantauan direncanakan dilakukan terhadap kendaraan yang digunakan sehari-hari dengan pemeriksaan pada jarak tempuh tertentu serta dukungan pengujian dari Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Menurut kementerian, tantangan yang masih perlu diselesaikan adalah penyempurnaan masa transisi pada sejumlah terminal dan penguatan informasi teknis kepada pengguna.
Pemerintah juga mendorong hasil teknis penggunaan B50 dapat disampaikan melalui situs web untuk menjadi rujukan bagi masyarakat dan pemangku kepentingan.
Program mandatori B50 mulai diterapkan pada 1 Juli 2026. B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen bahan bakar solar.
Kementerian ESDM sebelumnya menyebut implementasi B50 menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.
Pemerintah memproyeksikan implementasi B50 dapat menghemat devisa hingga Rp170 triliun melalui pengurangan kebutuhan impor bahan bakar minyak jenis solar.
Baca juga: Kementerian ESDM mencatat penyaluran B50 capai 80 persen
Baca juga: ESDM sebut mandatori B50 hemat devisa sekitar Rp170 triliun
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.