Pekanbaru, Riau (ANTARA) - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina, lewat anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Rokan Nonkonvensional menandatangani kontrak bagi hasil migas nonkonvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan.
Direktur Utama PHR Muhamad Arifin mengatakan penandatanganan kontrak MNK Rokan adalah langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional.
Keberhasilan ini akan menjadi referensi penting bagi pengembangan sumber migas nonkonvensional di wilayah lain.
"MNK bukan hanya proyek eksplorasi, melainkan fondasi baru yang akan menjadi investasi strategis untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dan membangun kompetensi baru di hulu migas di Indonesia," katanya dalam keterangannya yang diterima di Pekanbaru, Riau, Selasa.
Ia menambahkan dengan dukungan regulasi, ekosistem operasional yang mumpuni, serta roadmap jelas menuju tahap komersialisasi, MNK Rokan sebagai game changer akan membuka harapan baru bagi industri energi Indonesia.
Pasalnya, MNK di zona Rokan ini memiliki potensi cadangan minyak terambil sebanyak 724 juta barel setara minyak.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Sunaryanto mengatakan sebagai Subholding Upstream Pertamina, PHE optimistis pengembangan MNK di Indonesia akan berkontribusi signifikan terhadap produksi minyak nasional di masa mendatang.
"Pengembangan MNK memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan produksi minyak di dalam negeri," ujarnya.
Perjalanan MNK Rokan dimulai dari pengeboran Gulamo DET-1 pada 2023, yang kemudian dilanjutkan dengan Kelok DET-1 pada 2024 sebagai bagian dari upaya studi potensi migas nonkonvensional di struktur North Aman.
Keberhasilan Gulamo DET-1 dan Kelok DET-1 berdasarkan hasil pemboran dan pengujian yang telah dilakukan semakin memperkuat keyakinan PHR terhadap potensi pengembangan migas MNK di struktur North Aman.
Struktur ini diperkirakan memiliki sumber daya terambil (recoverable resources) mencapai 724 juta barel setara minyak (MMBOE).
Hal ini menjadi dasar bagi PHR untuk melanjutkan tahapan apraisal guna mengonfirmasi besaran sumber daya dan potensi pengembangannya. North Aman menjadi fondasi awal pengembangan MNK yang lebih luas di Wilayah Kerja Rokan, dengan peluang pengembangan pada struktur lain seperti South Aman, Rangau, dan Balam.
Keunggulan ekosistem operasional Zona Rokan, mulai dari keberadaan infrastruktur produksi, fasilitas pendukung, akses operasional, serta ekosistem rantai pasok yang telah berkembang di zona Rokan menjadi modal penting untuk mendukung pengembangan MNK Rokan secara bertahap.
Pengembangan MNK tidak hanya membutuhkan penerapan teknologi yang kompleks, tetapi juga dukungan dari berbagai komponen ekosistem MNK.
Hadirnya Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Nomor 246.K/MG.04/MEM.M/2026 mengenai Percepatan Pelaksanaan Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi Non Konvensional Wilayah Kerja Rokan, memberi kepastian regulasi dan fiskal bagi kontraktor, serta kemudahan komersialisasi produksi MNK.
Termasuk di dalamnya, skema cost recovery dengan split adaptif dan insentif investasi.
Skema ini dirancang guna menyeimbangkan daya tarik investasi dengan penerimaan negara, sekaligus memastikan keberlanjutan proyek jangka panjang.
Baca juga: SKK Migas: Sumur MNK di Rokan produksi 500 barel minyak per hari
Baca juga: SKK Migas: Sumur MNK di Blok Rokan masuk ke tahap fracturing
Baca juga: PHR: Tajak sumur eksplorasi MNK kedua upaya tingkatkan produksi migas
Pewarta: Bayu Agustari Adha
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.