Jakarta (ANTARA) - PT Weda Bay Nickel (WBN) dan Universitas Khairun berkolaborasi dalam memperkuat pemantauan keanekaragaman hayati di Halmahera, Maluku Utara, yang merupakan wilayah operasional WBN.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan keberadaan flora dan fauna serta kondisi ekosistem dapat dipantau secara berkala sebagai dasar pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

"Kami memantau dan mendapatkan hasil area mana yang memiliki nilai biodiversitas lebih tinggi, data tersebut menjadi pertimbangan dalam perencanaan pengembangan program keanekaragaman hayati serta pengelolaan lingkungan yang juga tertuang dalam dokumen Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di Weda Bay Nickel," kata Senior Rehabilitation Superintendent Weda Bay Nickel Fitri Rahmadani Ritonga dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Fitri menyampaikan komitmen tersebut dituangkan melalui kebijakan keanekaragaman hayati yang menjadi landasan WBN dalam menerapkan operasional berkelanjutan melalui perlindungan lingkungan, reklamasi lahan, restorasi habitat, pengelolaan keanekaragaman hayati serta pemenuhan regulasi lingkungan yang berlaku.

Baca juga: Kemdiktisaintek dukung Indonesia perkuat konservasi dan ekowisata

Pemantauan dilakukan dengan menggabungkan pengamatan langsung dan penggunaan camera trap.

Pemantauan tersebut juga diperkuat melalui kajian jangka panjang. Identifikasi spesies di wilayah proyek dilakukan pada periode 2001-2008 dan dilanjutkan melalui survei pada 2010-2014.

Kajian tersebut mengidentifikasi keanekaragaman hayati, menyediakan data spesies flora untuk mendukung reklamasi lahan serta mengidentifikasi komponen flora yang memiliki nilai ekonomi maupun ekologis.

Sementara, Peneliti dan Dosen Universitas Khairun M. Natsir Tamalene mengatakan pemantauan flora dan fauna bersama WBN telah berlangsung sekitar empat tahun. Jumlah titik pemantauan bahkan berkembang dari enam titik menjadi 40 titik.

"Halmahera berada di kawasan Wallacea, wilayah peralihan dengan tingkat endemisitas yang tinggi dan sebaran sejumlah spesies yang terbatas secara geografis," ujar Natsir.

Baca juga: Menteri LH soroti pentingnya pengelolaan lingkungan lebih baik PT WBN

Oleh karena itu, kata dia, pemantauan yang dilakukan secara berulang dan di berbagai titik penting untuk melihat perubahan kondisi keanekaragaman hayati dari waktu ke waktu, bukan hanya memperoleh gambaran pada satu periode tertentu.

Dari pemantauan tersebut, tim peneliti telah memverifikasi sekitar 249 spesies tumbuhan. Sebanyak 81,1 persen masuk kategori umum, 8,8 persen merupakan endemik lokal, 5,6 persen memiliki persebaran regional hingga Papua.

Sementara 1,2 persen tersebar antarkawasan hingga Filipina. Dari sisi habitat, sekitar 63 persen spesies ditemukan pada habitat primer.

Untuk fauna, pemantauan mengidentifikasi 53 spesies burung, 28 serangga, delapan mamalia, delapan amfibi, empat fauna tanah serta tiga reptil. Terdapat pula 35 trigger species fauna dan 18 spesies yang dilindungi pemerintah Indonesia.

Menurut Natsir, metode pemantauan disesuaikan dengan karakteristik setiap kelompok fauna. Burung diamati melalui perjumpaan langsung dan suara, mamalia dipantau menggunakan camera trap serta kelelawar, reptil, mamalia kecil hingga fauna malam menggunakan metode dan perangkap yang sesuai.

Salah satu temuan dalam pemantauan adalah Tikus Duri Boki Mekot (Halmaheramys bokimekot), mamalia endemik Halmahera dan juga menjadi spesies kunci dengan catatan persebaran yang sangat terbatas.

Keberadaan spesies tersebut terekam melalui camera trap dan perangkap hidup (sherman traps) di salah satu titik pemantauan WBN.

Baca juga: Menko Perekonomian: Weda Bay kawasan industri paling efisien di dunia

Baca juga: UNIDO: Kawasan industri IWIP strategis bagi industri nikel global

Baca juga: Kemitraan UNIDO-Tsingshan tetapkan IWIP sebagai kawasan percontohan

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.