Jakarta (ANTARA) - Mulut merupakan tempat bagi keseimbangan mikroba yang rumit, termasuk bakteri yang, jika terganggu, dapat berdampak buruk pada kesehatan menurut beberapa penelitian.

Dalam siaran Channel News Asia pada Sabtu (12/9) waktu setempat, para pengguna di media sosial sedang meributkan bahwa penggunaan obat kumur secara teratur justru meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, bahkan masalah aliran darah ke otak.

Namun, menurut profesor periodontik dan kedokteran mulut di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Michigan Dr. Purnima Kumar menilai penggunaan obat kumur yang dijual bebas sesekali, seperti sekali seminggu atau sekali sebulan, kemungkinan tidak akan merusak kesehatan mulut atau kesehatan umum.

Tetapi jika diulang selama beberapa kali dalam sehari selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, ada kemungkinan penggunanya memiliki beberapa efek yang merusak.

Baca juga: Penggunaan obat kumur berlebihan dapat sebabkan hipertensi

Profesor madya periodontik di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Maryland Dr. Vivek Thumbigere-Math menyebut obat kumur terbagi ke dalam dua kategori yakni obat kumur terapeutik yang mengandung bahan aktif yang membunuh bakteri dan membantu mengatasi masalah gigi umum seperti bau mulut, penyakit gusi, dan kerusakan gigi dan obat kumur kosmetik yang sementara menutupi bau mulut dan meninggalkan rasa yang menyenangkan di mulut tetapi tidak mengandung bahan aktif pembunuh kuman.

Adapun fungsinya yakni sama-sama untuk menghilangkan bakteri berbahaya yang menyebabkan masalah gigi umum sambil mempertahankan bakteri bermanfaat yang mencegah masalah tersebut.

Sayangnya, beberapa penelitian terbatas dan yang baru muncul menemukan bahwa jenis obat kumur tertentu, terutama obat kumur terapeutik yang mengandung antiseptik klorheksidin, yang hanya tersedia melalui resep dokter di Amerika Serikat, dapat mengubah mikrobioma mulut dan beberapa fungsi normalnya.

Dalam sebuah uji coba kecil yang diterbitkan pada tahun 2020, 36 orang dewasa sehat di Inggris berkumur dua kali sehari selama tujuh hari dengan obat kumur plasebo, dan kemudian melakukan hal yang sama dengan obat kumur yang mengandung klorheksidin.

Obat kumur klorheksidin dikaitkan dengan pergeseran besar dalam mikrobioma saliva, serta mulut yang lebih asam yang dapat meningkatkan risiko gigi berlubang dan lebih sedikit bakteri yang terkait dengan tekanan darah yang sehat.

Baca juga: Ekstrak bawang putih bisa jadi alternatif obat kumur anti kuman

Periodontis di New York City Dr. Richard Nejat menambahkan belum ada bukti yang jelas bahwa obat kumur dengan merek-merek yang populer mengandung bahan antiseptik seperti setilpiridinium klorida, minyak esensial, yodium, atau hidrogen peroksida, yang dapat mengubah mikrobioma sebanyak klorheksidin.

Maka dari itu, dia menyarankan agar sebaiknya menghindari penggunaannya dalam jangka waktu lama kecuali perlu mengobati masalah gigi tertentu.

Kumar menambahkan ada bukti yang berkembang menunjukkan bahwa gangguan pada mikrobioma mulut dapat memengaruhi kesehatan kardiovaskular. Bakteri mulut mengubah nitrat dari makanan menjadi oksida nitrat, yang merelaksasi pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah.

Beberapa penelitian juga menemukan hubungan antara penggunaan obat kumur secara teratur dan peningkatan risiko terkena diabetes tipe 2 dan tekanan darah tinggi. Namun, penelitian tersebut memiliki banyak keterbatasan dan belum membuktikan sebab dan akibat.

Obat kumur berbasis alkohol atau peroksida juga dapat mengiritasi gusi, lidah, bagian dalam pipi, dan jaringan lunak lainnya dan bahan-bahan seperti minyak esensial atau zat pembusa dapat menyebabkan rasa terbakar, sariawan, atau dalam beberapa skenario ekstrem, pengelupasan di dalam mulut.

Para ahli merekomendasikan pada pihak yang membutuhkan obat kumur untuk berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter gigi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan.

Misalnya, jika gigi berlubang, penderitanya dapat menggunakan obat kumur yang mengandung fluoride. Sedangkan bila mulut kering, gunakanlah obat kumur dengan bahan-bahan yang dirancang untuk merangsang atau meniru produksi air liur.

Pasien yang sementara tidak dapat menyikat gigi atau membersihkan sela-sela gigi seperti biasa, termasuk setelah prosedur gigi tertentu, juga dapat memperoleh manfaat dari penggunaan obat kumur terapeutik.

Obat kumur fluoride bisa lebih aman dalam jangka panjang daripada obat kumur antiseptik karena obat kumur fluoride terutama bekerja dengan memperkuat enamel gigi daripada membunuh bakteri.

Pihak yang mengalami mulut kering, sariawan, atau gusi dan gigi sensitif sebaiknya memilih obat kumur bebas alkohol. Sementara bagi yang memiliki gigi sensitif sebaiknya menghindari penggunaan obat kumur pemutih secara sering.

Baca juga: Cara tepat sikat gigi dan pemakaian obat kumur cegah gigi berlubang

Baca juga: Dokter: Sering berkumur dengan antiseptik sebabkan mulut mudah kering

Baca juga: Dokter gigi jelaskan mengapa obat kumur beralkohol perlu dihindari

Penerjemah: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.