Jakarta (ANTARA) - Dalam "New Delhi Declaration" hasil KTT BRICS 2026, di antara pembicaraan tentang perang, reformasi PBB, IMF dan Bank Dunia, perdagangan, teknologi, hingga masa depan tata kelola global, muncul satu nama kota Indonesia: Bandung.

Nama itu tidak hadir sebagai catatan kaki sejarah. Para pemimpin BRICS mengingat kembali Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 beserta prinsip kesetaraan, kemerdekaan, non-intervensi, dan manfaat bersama yang dibawanya.

Bandung Spirit kemudian ditempatkan sebagai salah satu rujukan bagi sistem multilateral yang lebih adil, inklusif, dan representatif. Setelahnya, deklarasi bergerak pada persoalan reformasi tata kelola ekonomi global serta perlunya memperbesar suara dan representasi negara-negara berkembang.

Tujuh puluh satu tahun setelah KAA di Bandung rupanya belum selesai berbicara kepada dunia.

Indonesia telah menjadi anggota penuh BRICS sejak Januari 2025. Di New Delhi, persoalannya bukan lagi apakah Indonesia berada di dalam forum tersebut, melainkan apa yang dapat dilakukan dengan keanggotaan itu.

Baca juga: BRICS, jalan Indonesia menegaskan ruang gerak global

Kemunculan Bandung beriringan dengan tiga pesan yang dibawa Presiden Prabowo Subianto ke New Delhi. Presiden berbicara tentang kemandirian dan ketahanan nasional, pentingnya persatuan negara-negara Global South, serta perlunya kekuatan BRICS diterjemahkan menjadi kerja sama konkret dan tata kelola dunia yang lebih adil.

Tiga pesan itu dapat dibaca sebagai pernyataan diplomatik biasa, tetapi bila diletakkan berdampingan, ada hubungan yang lebih dalam.

Presiden memulainya dari sesuatu yang sangat domestik: pangan, energi, dan pendidikan. Kemampuan memenuhi kebutuhan tersebut dipandang sebagai fondasi agar Indonesia tidak mudah bergantung atau didikte, memiliki keleluasaan menentukan kepentingannya sendiri, kemudian memainkan peran yang lebih aktif di tingkat internasional.

Hubungan itu tentu tidak sesederhana swasembada pangan lalu otomatis menjadi kuat secara diplomatik. Negara dengan cadangan energi besar pun belum tentu memiliki pengaruh politik yang sepadan. Kekuatan internasional lahir dari lebih banyak unsur: kapasitas ekonomi, institusi, kepemimpinan, posisi geografis, jaringan mitra, peluang yang tersedia, serta kecakapan mengubah semua modal itu menjadi hasil. Kapasitas domestik memberi sesuatu yang mendasar: pilihan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.