Rosatom masuk 10 besar perusahaan nuklir inovatif di dunia

Rosatom masuk 10 besar perusahaan nuklir inovatif di dunia

Para tenaga ahli nuklir Rosatom tengah mengawasi pembangunan satu proyek reaktor nuklir mereka. (powertecrussia.com)

Jakarta (ANTARA News) - BUMN dari Rusia, Rosatom State Atomic Energy Corporation (Rosatom), masuk ke dalam 10 besar perusahaan nuklir paling inovatif di dunia, berdasar perusahaan penyedia informasi analisis bisnis Thomson Reuters.

Thomson Reuters menyatakan, Rosatom telah mendapatkan lebih dari 250 paten dalam kurun waktu 2010-2015 di bidang fusi termonuklir dan paten di area utama energi nuklir berdasarkan pada fisi nuklir.

Dalam keterangan yang diterima, di Jakarta, Kamis, Rosatom disebut telah memiliki lebih dari 250 paten yang berfokus pada beberapa area termasuk teknologi inertial confinement fusion dan teknologi magnetic confinement of hot fusion plasma.

"Perlu dicatat bahwa periode 2015 merupakan tahun yang paling produktif bagi Rosatom dalam aktivitas paten," dikutip dari laporan dari Thomson Reuters.

Para ilmuwan nuklir Rusia tercatat terlibat aktif dalam proyek International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER) yang bertujuan untuk mempelajari teknologi fusi nuklir.

Dalam laporannya, Thomson Reuters juga menyatakan, sebagian besar perusahaan yang unggul di bidang nuklir berada di Asia, yakni 15 dari 20 perusahaan di dunia. Jepang salah satu negara Asia paling produktif.

Rosatom merupakan Badan Tenaga Nuklir Rusia yang berubah pada 2007. Perusahaan korporasi nuklir Rusia itu memasok 33 persen kebutuhan listrik wilayah Rusia yang terletak di Eropa.

Pada pengayaan nuklir, Rosatom meraih 36 persen pada pasar pengayaan uranium. Portofolio perusahaan tersebut dalam 10 tahun lebih dari 100 miliar dolar AS.

Setidaknya ada 38 unit PLTN, yang terdiri dari 29 PLTN di luar Rusia yang akan segera dikerjakan.

Rosatom juga menguasai 17 persen dari pasar bahan bakar nuklir dunia. Rosatom merupakan satu-satunya negara yang mempunyai sistem aktif dan pasif dalam sistem keamanan PLTN.

Pewarta: Dyah Dwi
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sudah waktunya Indonesia melirik nuklir sebagai pembangkit listrik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar