Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan akan menyiapkan pembangkit pengganti untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang terdampak oleh El Nino.

“Sulawesi Selatan itu kan ada beberapa pembangkit yang memang kita pakai PLTA. Akibat El Nino ini, kekuatan air itu berkurang,” ujar dia ketika ditemui setelah Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu.

Berkurangnya kekuatan air untuk PLTA di Sulawesi Selatan, kata Bahlil, dimitigasi oleh pemerintah dengan mencari pembangkit pengganti untuk sementara.

“Kami sudah mencari solusi, yaitu mengganti sementara dengan pembangkit yang lain,” kata Bahlil.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) menghadapi tekanan seiring menurunnya daya mampu sejumlah pembangkit hidro.

Kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino menyebabkan produksi PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) menurun.

Darmawan merinci, daya mampu agregat pembangkit hidro turun dari sekitar 850 MW menjadi 250 MW, atau berkurang sekitar 600 MW.

Di sisi lain, terdapat perbaikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeneponto berkapasitas 2 x 100 megawatt (MW) milik swasta yang terkendala oleh gangguan teknis sehingga menyebabkan pasokan listrik berkurang.

Kondisi itu, menurut dia, menambah tekanan terhadap keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sulbagsel.

Untuk meningkatkan pasokan, lanjutnya, PLN menjalankan sejumlah langkah secara simultan. Selain mempercepat perbaikan pembangkit, PLN mengoptimalkan pembangkit yang tersedia dan menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit hingga 627 MW.

PLN juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro. Namun, kondisi atmosfer yang sangat kering membuat ketersediaan awan yang dapat disemai masih terbatas.

“Seluruh langkah ini kami jalankan secara paralel. Kami menargetkan pada akhir September 2026 pasokan dan kebutuhan listrik Sulbagsel dapat berangsur seimbang kembali. Prosesnya kami kawal dan evaluasi dari hari ke hari,” kata Darmawan.

Untuk jangka panjang, PLN juga menyiapkan penguatan sistem Sulbagsel agar lebih beragam, fleksibel, dan resilien menghadapi dinamika pasokan. Sesuai arahan Presiden melalui program PLTS 100 gigawatt (GW), PLN akan memperkuat sistem Sulbagsel dengan sekitar 5,2 GWp Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan 8,2 gigawatt hour (GWh) Battery Energy Storage System (BESS).

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.