Jakarta (ANTARA) - Pertamina New & Renewable Energy (NRE) mendorong inovasi pengelolaan sampah dengan mengedepankan pendekatan waste-to-value melalui pengembangan proyek percontohan Decentralized Waste Management (DWM) Kota Bandung.
Direktur Proyek & Operasi Pertamina NRE Norman Ginting dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan proyek ini menjadi langkah awal untuk mengembangkan pengelolaan sampah terintegrasi yang dapat mengubah sampah menjadi sumber daya dan energi bernilai tambah.
“Melalui proyek ini, kita ingin mendorong transformasi dari waste menjadi resource, dan selanjutnya dari waste menjadi value. Material yang masih bernilai dapat dipulihkan, sementara fraksi yang memiliki nilai energi dapat dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif dengan kualitas yang lebih terkontrol,” kata Norman.
Dalam konsep awal, fasilitas ini dirancang untuk mengolah sekitar 300 ton municipal solid waste (MSW) per hari melalui rangkaian proses mechanical sorting dan material recovery, antara lain bag opening, screening, magnetic separation, ballistic separation, dan eddy current separation.
Proses tersebut akan memisahkan material yang masih memiliki nilai daur ulang, fraksi organik atau fines, serta fraksi combustible yang dapat diproses lebih lanjut.
Dari sisi teknologi, DWM mengintegrasikan proses mechanical sorting, material recovery, dan fuel preparation.
Fraksi combustible yang telah dipisahkan dapat melalui proses pencacahan, pengeringan, pencampuran, dan pengendalian kualitas untuk menghasilkan Solid Recovered Fuel (SRF) dengan karakteristik yang lebih konsisten.
SRF tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan sebagian penggunaan bahan bakar fosil, baik melalui co-firing pada pembangkit listrik maupun untuk kebutuhan energi di sektor industri.
Baca juga: Akademisi: PSEL pangkas 30 persen timbunan sampah kota
Baca juga: Danantara tetapkan mitra PSEL Bekasi targetkan desain tuntas 2026
Ia menjelaskan, dalam konsep yang sedang dikaji, fraksi combustible dari MSW juga dapat dikombinasikan dengan sekam untuk menghasilkan blended SRF, yang selanjutnya akan diverifikasi berdasarkan karakteristik bahan baku, kualitas produk, keberlanjutan rantai pasok, serta kebutuhan calon offtaker.
“Nilai teknologi proyek ini bukan hanya terletak pada mesin pengolah sampah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem yang mampu mengubah sampah yang sangat heterogen menjadi material dan bahan bakar yang lebih konsisten, terukur, dan memiliki nilai ekonomi. Inilah yang membedakan pendekatan waste-to-value dengan pengelolaan sampah konvensional,” ujar Norman.
Keberhasilan proyek ini, lanjut dia, akan membutuhkan integrasi di sepanjang rantai nilai, mulai dari kepastian pasokan dan karakteristik sampah, kesiapan lahan dan infrastruktur, ketersediaan bahan pendukung, kualitas produk, hingga kepastian offtaker.
Dalam struktur awal proyek, PNRE direncanakan berperan sebagai developer sekaligus operator dengan dukungan pemerintah daerah serta mitra engineering, procurement and construction (EPC), technology provider, supplier, dan offtaker.
Baca juga: Pertamina kembangkan PSEL di DIY dengan potensi kapasitas 30 MW
Baca juga: Wamen ESDM pastikan teknologi PSEL Legok Nangka aman bagi lingkungan
Baca juga: PLN pastikan serap listrik dari PSEL Legok Nangka selama 20 tahun
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.