Singapura (ANTARA) - Sebuah laporan studi yang dirilis pada Rabu menyebutkan enam negara terbesar Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, diproyeksikan mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata 4,8 persen per tahun antara 2026 hingga 2035.
Laporan yang disusun bersama oleh Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners tersebut memaparkan pertumbuhan akan disokong investasi asing dan pembentukan modal berkelanjutan, industrialisasi dan pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut, serta peningkatan produktivitas berbasis adopsi teknologi.
Konsumsi domestik yang tangguh dan demografi yang menguntungkan di beberapa perekonomian utama juga diperkirakan akan memberikan dukungan.
Namun, jalur pertumbuhannya berbeda-beda, dengan kekuatan institusional, keamanan energi, dan kesiapan teknologi menentukan kemampuan perekonomian dalam menghadapi guncangan dan memanfaatkan peluang.
Vietnam diperkirakan akan tetap menjadi pemimpin pertumbuhan regional, sementara Thailand tertinggal dari negara-negara sejawatnya. Indonesia, Filipina, dan Thailand menghadapi paparan risiko yang lebih besar dalam skenario penurunan, sedangkan Malaysia, Singapura, dan Vietnam memiliki potensi pertumbuhan yang lebih besar dalam kondisi yang lebih menguntungkan.
Penanaman modal asing langsung (FDI) juga melonjak, dengan pergeseran komposisi investor yang mencerminkan penataan kembali rantai pasokan global.
Laporan itu menunjukkan bahwa Singapura tetap menjadi perekonomian paling tangguh di kawasan tersebut, didukung oleh statusnya sebagai safe haven, pasar yang dalam, penyangga fiskal, serta kredibilitasnya sebagai pusat regional yang tepercaya. Posisinya sebagai pusat modal regional juga memfasilitasi peluang investasi dan bisnis di seluruh Asia Tenggara.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Gilang Galiartha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.