Jakarta (ANTARA) - Setelah berinteraksi dengan 5.000 pengasuh pesantren melalui kegiatan workshop pesantren transformatif, penulis berkesimpulan bahwa para dai pun perlu melakukan transformasi.
Kesimpulan itu diperkuat juga ketika penulis mulai berinteraksi dengan 2.000 pengasuh pesantren rintisan yang workshop-nya juga sedang berjalan untuk menggarap 10.000 pengasuh pesantren di Indonesia yang terseleksi.
Informasi lain,setelah pekan lalu penulis menyampaikan keynote speech di workshop untuk para ibu nyai dan para ning (putri kiai) mengenai edukasi seks dan kesehatan mental. Imam Jazuli Foundation menyeleksi 700 peserta untuk hadir di workshop tersebut. Panitia menargetkan 5.000 peserta di seluruh Indonesia.
Kembali ke soal para dai, kenapa mereka perlu bertransformasi juga? Tentu, karena mereka pun terkena serangan perubahan disruptif. Maka, Imam Jazuli Foundation mulai pekan lalu mengadakan "Workshop Nasional Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif".
Dan benar. Ketika dibuka pertama kali untuk para dai di Jawa Barat, hanya dalam 3 hari, pendaftarnya mencapai 1.500 orang. Setelah diseleksi menjadi 700 orang, workshop perdana pun dimulai.
Untuk memperkaya gagasan utama yang penulis sampaikan dalam keynote speech, sejumlah tokoh pun turut menyampaikan perspektifnya, antara lain KH Anwar Iskandar dari MUI Pusat, Gus Ipang, pakar branding nasional, Ustaz Yusuf Mansur, dan Ari Untung.
Selanjutnya, ditargetkan 5.000 dai nasional diundang di workshop dai transformatif ini. Tentunya, mensyaratkan peserta lolos seleksi lebih dulu secara portofolio dan kompetensi.
Penulis mengamati dunia dakwah memang sedang berubah. Tetapi yang berubah bukan hanya medianya. Masyarakatnya berubah. Harapannya berubah. Cara mereka mencari pengetahuan berubah. Bahkan, cara mereka menentukan siapa yang layak didengarkan pun berubah.
Banyak dai senior memiliki kedalaman ilmu, pengalaman panjang, dan otoritas keagamaan yang tidak perlu diragukan. Tetapi sebagian dari mereka mulai kehilangan audiens. Bukan selalu karena ilmunya tidak lagi dibutuhkan, melainkan karena cara menyampaikannya tidak lagi berjumpa dengan cara masyarakat hari ini menerima pesan.
Pada saat yang sama, bermunculan dai-dai baru yang lebih lincah memasuki ruang digital, lebih memahami bahasa generasi muda, lebih piawai mengemas pesan, dan lebih cepat membangun perhatian publik. Masalahnya, kemampuan menarik perhatian tidak selalu berjalan seiring dengan kompetensi keilmuan.
Akibatnya, terjadi paradoks yang lebih serius, lapak dakwah semakin ramai, tetapi tidak semuanya diisi oleh orang yang memiliki kapasitas dakwah yang memadai.
Kontekstual-aktual
Jika ditelaah lebih dalam, perintah dakwah dalam al-Quran selalu menggunakan kata kerja amar (perintah) dan mudlorik. Ini artinya, dakwah harus kontekstual dan aktual sesuai dengan kondisi masyarakat hari ini.
Wali Sanga memberikan contoh yang sangat berhasil. Andaikan para wali masih hidup di era sekarang, mungkin bukan wayang yang digunakan sebagai media sosialisasi, tetapi film, video, atau fasilitas media sosial yang lain pun menjadi instrumen. Sejarah mencatat, dakwah Wali Sanga memenangkan pertarungan pengaruh di masyarakat.
Perubahan tidak pernah membunuh manusia. Penolakan, keterlambatan, dan ketidaktepatan dalam merespons perubahan itulah yang kerap membunuh langkah manusia.
Dengan kemajuan teknologi yang super luar biasa hari ini, maka setiap orang menjadi pemilik kantor redaksi sendiri. Peluangnya bagi dai adalah bisa diakses secara global, biaya sangat murah, bisa menyebarkan konten kapan saja, bisa berkomunikasi dengan masyarakat (mad’u) kapan saja dan dimana saja, serta cepat dan mudah mengakses sumber materi bagi dai. Tidak usah buka kitab mustholah hadits untuk mengecek hadits hari ini.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.