Di tengah kawasan karst yang selama bertahun-tahun identik dengan tanah kering, pohon-pohon kakao tumbuh di pekarangan warga. Dari sana, para petani membangun harapan.
Yogyakarta (ANTARA) - Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), selama ini lebih lekat dengan citra tanah kering dan bentang alam karst daripada hamparan kebun yang hijau dan subur.
Citra itu bukan tanpa alasan. Lebih dari separuh wilayah yang memiliki julukan Bumi Handayani ini merupakan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunungsewu. Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat kawasan karst di kabupaten tersebut membentang sekitar 807 kilometer persegi atau 53 persen dari keseluruhan wilayah Gunungkidul.
Namun, bagi sebagian petani, kondisi alam tersebut bukan alasan untuk berhenti mencari peluang.
Keterbatasan lahan dan air justru mendorong petani bereksperimen mencari komoditas yang mampu beradaptasi dengan lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomi. Dari proses panjang itu, kakao mulai menemukan tempatnya di antara bentang alam yang selama ini lebih sering disebut gersang.
Komoditas tersebut kini perlahan berkembang menjadi salah satu potensi ekonomi baru. Tidak hanya ditanam dan dipanen, kakao Gunungkidul mulai diolah menjadi berbagai produk turunan sehingga rantai nilai dari hulu hingga hilir mulai terbentuk.
Perjalanan itu salah satunya terlihat di Dusun Gambiran, Kalurahan Bunder, Gunungkidul.
Asa dari Pekarangan
Pagi di rumah Paryanto dimulai dengan pekerjaan sederhana. Petani kakao itu duduk di tritisan, bagian bawah atap di pinggir rumah, menggunakan dingklik bambu. Sebilah gunting berada di tangannya.
Di hadapannya, ratusan bibit kakao dalam polibag kecil memenuhi pekarangan. Satu per satu tanaman dirawat dengan memangkas daun-daun yang sudah mengering.
"Rutinitas setiap pagi petani kakao ya seperti ini, Mas, 'prunning' daun supaya benih tumbuh dengan baik," katanya saat ditemui di rumahnya, Jumat (11/9/2026).
Paryanto mulai menanam kakao pada 2004. Selama beberapa tahun, ia mencoba mencari tanaman bernilai ekonomi yang paling sesuai dengan kondisi wilayah tempat tinggalnya.
Baru pada 2009 ia memutuskan untuk lebih serius menekuni budi daya kakao setelah melihat potensi ekonominya sekaligus karakter tanaman yang dianggap cocok dengan kondisi Gunungkidul.
"Kakao termasuk cocok tumbuh di Gunungkidul yang sebagian besar lahan merupakan kawasan hutan, karena pohon kakao itu kan tanaman hutan," ujarnya.
Kakao memang membutuhkan naungan agar dapat tumbuh lebih baik dan tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Karakter tersebut kemudian dimanfaatkan petani Gunungkidul dengan menanam kakao berdampingan dengan tanaman produktif lainnya.
Cara itu membuat lahan yang terbatas tetap dapat menghasilkan lebih dari satu komoditas.
"Jadi lebih efektif, karena di dalam satu lahan bisa menanam lebih dari satu komoditas tanaman," katanya.
Model budi daya kakao di Gunungkidul pun memiliki karakter tersendiri. Berbeda dengan perkebunan kakao di sejumlah daerah yang umumnya berada di lahan luas, tanaman kakao di Bunder tumbuh di sela-sela rumah dan pekarangan sempit milik warga.
Hampir setiap rumah di Dusun Gambiran memiliki pohon kakao dengan jumlah yang berbeda-beda, bergantung pada luas pekarangan.
Pola tersebut secara tidak langsung sejalan dengan Program Lumbung Mataraman dari Pemerintah Daerah DIY, yang memanfaatkan pekarangan atau lahan tidur di sekitar rumah untuk memperkuat ketahanan, kemandirian, dan diversifikasi pangan berbasis masyarakat.
Dari sekitar 150 pohon kakao yang kini dikembangkan, Paryanto masih menyimpan target lebih besar.
"Kalau yang saya miliki, ada sekitar 150 pohon. Ini yang saya kembangkan, target saya pengembangan selanjutnya adalah 500-an pohon," katanya.
Baca juga: Petani Gunung Kidul ekspor kakao ke Eropa
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.