Kecepatan respons pemerintah harus berjalan beriringan dengan kecepatan respons warga. Selisih beberapa menit dapat menentukan apakah api berhenti di satu ruang atau menjalar ke bangunan lain.
Surabaya (ANTARA) - Api hampir selalu bermula dari sesuatu yang tampak kecil. Sepercik nyala, panas yang luput dari pengawasan, atau bahan mudah terbakar yang bertemu sumber api dapat berubah menjadi masalah besar jika tidak segera dikenali dan dikendalikan.
Di kawasan perkotaan, risiko itu semakin kompleks karena ruang hidup, aktivitas ekonomi, jaringan listrik, dan permukiman saling berdekatan.
Kota Surabaya, Jawa Timur, menghadapi risiko serupa. Api dapat bermula dari rumput kering di lahan kosong, puntung rokok di tepi jalan, korsleting listrik, kompor yang ditinggalkan, hingga penggunaan perangkat elektronik tanpa pengawasan.
Ketika api membesar, yang bekerja bukan lagi sekadar kewaspadaan warga, melainkan seluruh sistem kedaruratan kota. Laporan harus segera diterima, lokasi harus dipastikan, akses jalan harus terbuka, petugas harus bergerak, dan sumber daya harus dikirim dalam waktu singkat.
Karena itu, pencegahan kebakaran tidak cukup dipahami sebagai imbauan agar masyarakat berhati-hati. Pencegahan merupakan bagian dari tata kelola kota yang mempertemukan perilaku warga, kondisi lingkungan, kesiapan permukiman, teknologi, dan kapasitas layanan darurat.
Data terbaru Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sesuatu yang kecil. Pada Agustus 2026 tercatat 55 kejadian kedaruratan, yang didominasi kebakaran alang-alang di sekitar permukiman dan lahan terbuka. Angka itu meningkat dibandingkan 31 kejadian pada Agustus 2025.
Hingga pertengahan September 2026, kebakaran alang-alang bahkan disebut terjadi hampir setiap hari, dengan sedikitnya 21 kejadian. Secara kumulatif, sepanjang 2025 tercatat 271 kejadian kedaruratan. Sementara hingga pertengahan September 2026, jumlahnya telah mencapai 232 kejadian.
Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena kategori kedaruratan tidak seluruhnya merupakan kejadian kebakaran. Namun, data itu tetap memberi gambaran mengenai tekanan terhadap sistem penanganan kedaruratan kota, terutama ketika memasuki periode yang lebih kering.
Karena itu, data kebakaran tidak seharusnya berhenti sebagai catatan jumlah kejadian. Data perlu digunakan untuk membaca pola, lokasi, penyebab, waktu kejadian, serta tingkat kerawanan suatu kawasan. Dari sana, langkah pencegahan dapat diarahkan lebih tepat, sebelum api kembali muncul.
Baca juga: Kisah di balik seragam tahan panas personel Damkar Surabaya
Musim mengering
Kondisi kering membuat bahan yang mudah terbakar semakin rentan. Rumput dan alang-alang di lahan terbuka dapat menjadi sumber awal kebakaran, terutama ketika berada di dekat permukiman. Karena itu, larangan membakar sampah, semak, atau membuang puntung rokok sembarangan menjadi bagian dari upaya mengurangi sumber api.
Namun, pencegahan perlu bergerak lebih jauh dari sekadar imbauan. Lahan kosong, tanah yang belum dibangun, kawasan semak, dan ruang terbuka di sekitar permukiman perlu dipetakan sebagai wilayah yang membutuhkan perhatian lebih pada musim kering.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.