Surabaya (ANTARA) - Ada jenis kecemasan yang tumbuh lebih cepat daripada penyakitnya. Satu kabar tentang Influenza A beredar, rumah sakit disebut penuh, lalu bayangan masa pandemi seperti kembali hadir.
Di tengah arus informasi semacam itu, Kota Surabaya, Jawa Timur, menghadapi pekerjaan yang jauh lebih penting daripada sekadar menenangkan warga. Kota ini perlu memastikan kewaspadaan tetap hidup, tetapi tidak berubah menjadi kepanikan.
Pemerintah Kota Surabaya memastikan fasilitas kesehatan disiapkan menghadapi potensi peningkatan kasus Influenza A. Rumah sakit milik pemerintah kota diminta memperkuat koordinasi dan kesiapan tenaga medis.
Dinas Kesehatan Surabaya juga menyebut tidak ada keterisian ruang rawat inap yang disebabkan lonjakan Influenza A, sedangkan pasien dengan keluhan ringan lebih banyak ditangani melalui rawat jalan dan puskesmas.
Meskipun demikian, kewaspadaan tetap beralasan. Dinas Kesehatan Surabaya mencatat peningkatan sekitar 10 hingga 15 persen kasus ISPA dan flu dari periode Januari hingga Agustus dibandingkan September.
Angka itu penting dibaca secara hati-hati karena kenaikan keluhan ISPA dan flu tidak dengan sendirinya berarti seluruh kenaikan tersebut adalah karena Influenza A yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Di sinilah tantangan sebenarnya muncul. Influenza tidak selalu tampak berbeda dari flu biasa pada awal penyakit.
Karena itu, kemampuan kota bukan hanya terletak pada jumlah tempat tidur, tetapi pada ketepatan membaca gejala, mengenali kelompok berisiko, memperkuat pemantauan, dan memastikan warga tahu kapan harus dirawat sendiri dan kapan harus mencari pertolongan.
Angka dan makna
Data nasional memperlihatkan mengapa Influenza A perlu diperhatikan tanpa harus diperlakukan sebagai keadaan darurat.
Kementerian Kesehatan melalui surveilans hingga 19 September 2026 menyatakan tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada pada kategori rendah dan situasi masih terkendali. Meski demikian, proporsi positif influenza pada spesimen yang diperiksa meningkat menjadi 46 persen dari 35 persen pada pekan sebelumnya.
Dari 185 spesimen yang diperiksa, 86 dinyatakan positif, terdiri atas 76 Influenza A(H1N1)pdm09, delapan A(H3N2), dan dua Influenza B Victoria. Sebanyak 42 persen kasus influenza yang terdeteksi berada pada kelompok usia 0 hingga 4 tahun.
Angka 46 persen itu tidak berarti 46 persen penduduk Indonesia terserang influenza. Angka tersebut merupakan proporsi positif di antara spesimen yang memang diperiksa dalam sistem surveilans.
Perbedaan ini penting karena salah membaca angka dapat melahirkan dua kesalahan sekaligus, meremehkan ancaman atau membesar-besarkannya.
Dari sisi pelayanan, surveilans di 35 rumah sakit sentinel menunjukkan proporsi spesimen positif influenza pada pasien yang dirawat meningkat menjadi 31,7 persen. Namun, aktivitas influenza nasional tetap dinilai rendah dan pada pekan tersebut tidak ditemukan pasien positif influenza yang dirawat di ruang ICU dalam jaringan rumah sakit sentinel tersebut.
Temuan itu memberi pesan yang lebih masuk akal daripada sekadar angka positif. Penularan memang berlangsung dan perlu diawasi, tetapi indikator keparahan belum menunjukkan situasi seperti pandemi COVID-19.
Influenza A sendiri bukan nama untuk satu virus tunggal. Dalam surveilans, saat ini terdapat antara lain A(H1N1)pdm09 dan A(H3N2), yang merupakan virus influenza musiman pada manusia.
Karena itu, munculnya istilah Influenza A atau H3N2 tidak otomatis berarti muncul penyakit baru atau pandemi baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga membedakan influenza musiman dengan avian influenza yang memiliki karakter dan jalur penularan berbeda.
Hanya saja, ringan bukan berarti sepele. WHO memasukkan anak balita, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis atau gangguan kekebalan sebagai kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi.
Influenza dapat berkembang menjadi pneumonia dan, dalam kondisi berat, sepsis atau memperburuk penyakit yang sudah dimiliki seseorang.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.