Dimensi konflik pun akan meluas bukan sekadar perang saudara Yaman yang melibatkan Saudi
Jakarta (ANTARA) - Di tengah perpecahan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) serta keretakan dalam koalisi anti-Houthi, Timur Tengah kembali memanas oleh situasi terakhir di Yaman.
Dalam sebulan terakhir, Ansar Allah atau Gerakan Houthi, melakukan ofensif ke pesisir barat Yaman di tepi Laut Merah.
Serangan itu membuat Houthi bisa menduduki posisi-posisi strategis di sekitar Selat Bab al-Mandab sehingga mengubah peta konflik Yaman yang sudah berlangsung selama 12 tahun.
Dengan memperluas wilayah sampai pesisir barat, Houthi membuka dimensi strategis baru dalam konflik di Yaman.
Iran yang menjadi sekutu utama Houthi bisa mendapatkan keuntungan strategis jika suatu waktu harus berperang lagi dengan Amerika Serikat, yakni menguasai dua selat paling strategis untuk jalur maritim dan minyak dunia, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab.
Sebaliknya, Arab Saudi, yang sejak 2015 terlibat perang di Yaman, bisa terganggu oleh perkembangan terbaru itu.
Saudi tak terganggu ketika Selat Hormuz ditutup oleh Iran karena mereka bisa mengalihkan minyaknya ke Jalur Pipa Timur-Barat yang membentang dari bagian timur negeri itu sampai Terminal Yanbu di tepi Laut Merah.
Dari Yanbu, minyak Saudi dikapalkan ke Asia melewati Laut Merah, Selat Bab al-Mandab, Laut Arab, sampai tujuan-tujuan terakhir, khususnya India, China, Jepang, dan Korea Selatan.
Namun perkembangan terkini di Yaman membuat Houthi berpotensi mengganggu jalur penyaluran minyak Saudi ke Asia. Apalagi Houthi telah berikrar akan menyerang setiap kapal sipil dan militer Saudi yang melewati Selat Bab al-Mandab.
Kabar terakhir menyebutkan Houthi tengah bergerak menguasai kawasan perbukitan yang menghadap selat itu dan Laut Merah.
Saudi telah meminta Presiden AS Donald Trump untuk membantu menghentikan Houthi. Padahal sejak Mei 2025 AS terikat gencatan senjata dengan Houthi.
New York Times melaporkan bahwa awal pekan ini, Trump ditelepon oleh Pangeran Mohamed bin Salman dari Saudi. Tapi sampai kini Trump ragu bertindak karena dihadapkan pada dilema.
Jika membantu Saudi, maka AS membuka potensi diserangnya lagi kapal-kapal sipil dan militer mereka oleh Houthi ketika berlayar di Laut Merah dan Teluk Aden. Iran juga bisa terpancing untuk kembali berperang dengan AS jika Trump menuruti permintaan Saudi untuk menyerang Houthi.
Di sisi lain, Trump membutuhkan Saudi dalam konfliknya dengan Iran. Tapi ada potensi Saudi kali ini akan lebih permisif kepada AS dalam menggunakan wilayahnya untuk menyerang Iran.
Tiga kelompok besar
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.