Jakarta (ANTARA) - Peringatan Hari Tani Nasional pada 24 September semestinya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi menjadi momentum untuk menghadirkan semangat baru dalam pembangunan pertanian. Salah satu yang penting adalah bagaimana menjadikan petani benar-benar berdaulat.
Petani berdaulat adalah petani yang memiliki kemandirian, hak kelola, dan kuasa atas proses produksi pertaniannya. Konsep ini menempatkan petani sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek pembangunan atau bahkan buruh di tanah yang mereka garap sendiri.
Kedaulatan itu setidaknya dapat dilihat dari tiga aspek. Pertama, kemandirian produksi atau kedaulatan teknis. Petani memiliki kemampuan mengolah lahan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungannya, termasuk bahan alami dan pupuk organik, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pupuk dan pestisida kimia pabrikan.
Petani juga semestinya memiliki ruang untuk memproduksi, menyimpan, mendistribusikan, dan mempertukarkan benih lokal sesuai ketentuan yang berlaku. Kemandirian benih penting agar petani tidak sepenuhnya bergantung pada benih yang diproduksi pihak lain.
Baca juga: Menapak jalan swasembada bawang putih
Kedua, hak atas lahan atau kedaulatan agraria. Petani berdaulat idealnya memiliki kepastian penguasaan atas tanah yang menjadi sumber penghidupannya, bukan selamanya menjadi buruh tani atau penggarap.
Kepastian hak atas lahan juga penting untuk memberikan perlindungan terhadap penggusuran ataupun alih fungsi lahan yang merugikan petani.
Ketiga, kedaulatan sosial dan ekonomi. Petani perlu memiliki posisi tawar yang kuat dalam sistem pangan, termasuk dalam pembentukan harga hasil panen. Mereka harus memperoleh perlindungan dari praktik perdagangan yang tidak adil dan mata rantai perdagangan yang terlalu panjang sehingga menggerus pendapatan di tingkat petani.
Konsep petani berdaulat merupakan salah satu fondasi penting bagi terwujudnya kedaulatan pangan. Pemenuhan pangan nasional pada akhirnya tidak cukup hanya diukur dari tersedianya pangan, tetapi juga dari kemampuan produksi dalam negeri serta kesejahteraan orang-orang yang memproduksinya.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.