Moskow (ANTARA) - Lebih dari 400 lembaga pendidikan di Prancis menghentikan kegiatan belajar mengajar pada Jumat akibat aksi protes yang dilakukan para siswa sekolah menengah atas (SMA), kata Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray.
"Saat ini, saya mengetahui sedikitnya 400 sekolah akan ditutup besok," kata Geffray kepada saluran televisi France 2 pada Kamis (1/10).
Geffray mengatakan sistem keselamatan kebakaran yang rusak dan serangan terhadap staf menjadi sebagian dari beberapa alasan penutupan sekolah tersebut.
Hingga Kamis malam, polisi telah menahan 1.793 orang di seluruh negeri, yang hampir semuanya adalah anak di bawah umur, menurut laporan surat kabar Le Figaro.
Baca juga: Menteri: Polisi Prancis tahan 600 orang lebih saat protes pelajar
Seperti dikutip Sputnik, sepertiga dari mereka ditahan karena melakukan serangan terhadap aparat pemerintah, sepertiga lainnya karena melakukan unjuk rasa tanpa izin, dan sisanya karena perusakan properti.
Di Paris, polisi melakukan 130 penahanan, dengan 42 kasus yang melibatkan anak di bawah umur, dan telah dilimpahkan ke pengadilan.
Siswa SMA di Prancis telah melakukan aksi protes selama beberapa hari terakhir untuk menentang jadwal pelajaran yang terlalu padat, kekurangan guru, dan masalah-masalah pendidikan lainnya. Beberapa aksi unjuk rasa tersebut disertai dengan kerusuhan.
Pemerintah Prancis menyatakan aksi protes di sekolah-sekolah tersebut telah berkembang menjadi aksi kerusuhan di jalanan.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Hampir 80 orang terluka akibat aksi unjuk rasa pelajar di Prancis
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.