Anak Sebatik meneropong macet Jakarta, Anies Baswedan, dan Ahok

Anak Sebatik meneropong macet Jakarta, Anies Baswedan, dan Ahok

Dismas Blido, siswa kelas VIII SMPN 1 Sebatik Tengah, Nunukan, Kalimantan Utara yang berkesempatan mengikuti program "SabangMerauke" 2016. (ANTARA News/Lia Santosa)

Jakarta (ANTARA News) - Kali pertama menginjakkan kaki di Kota Jakarta dua minggu lalu, Dismas Blido, siswa kelas VIII SMPN 1 Sebatik Tengah, Nunukan, Kalimantan Utara, merasa takjub sekaligus heran. 

Tak seperti di Pulau Sebatik, Jakarta berhias kemacetan, ada sosok Anies Baswedan yang menginspirasi dia dan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Purnama (Ahok). 

Pulau Sebatik di mana dia lahir dan besar sungguh unik. Dia pulau perbatasan Indonesia dengan Malaysia, separuh pulau itu milik Indonesia dan separuh lagi Malaysia. Bahkan ada rumah-rumah penduduknya yang juga terbagi dua: teras depan rumah ada di Indonesia, dapurnya di wilayah Malaysia.

"Di Jakarta enak, makan apa saja ada. Tetapi yang saya tidak senang di Jakarta itu macetnya. Di Sebatik kita bisa tentukan waktu. Misalnya mau ke pasar itu jam 7.00, sampai sana sekitar jam 8.00. Itu tepat jam 8.00 sampai," tutur dia yang akrab dipanggil Dion, itu kepada ANTARA News, di Jakarta, Kamis (25/8). 

"Kalau di Jakarta, mau ke mal jam 8.00, kata kakak di Jakarta, jam 9.00 sampai. Ternyata jam 10.00 sampai. Itulah saya heran bagaimana cara pemerintah ini mengatasinya," imbuh Dion. 

Heran dengan kemacetan Jakarta, Dion yang berkesempatan bertemu Ahok di Balaikota Jakarta belum lama ini, meminta penjelasan langsung. 

"Kata Pak Ahok, dengan membuka busway, supaya macet berkurang. Tetapi di sini banyak orang kaya, membawa kendaraan sendiri. Kata Pak Ahok kalau orang tidak mau menaati peraturan ya kapan negara mau maju," kata dia. 

"Pak Anies Baswedan orangnya pendiam, ramah, beliau berpesan harus belajar sungguh-sungguh, mematuhi orangtua," kata Dion.

Belajar bertoleransi di Jakarta
Dion adalah salah satu dari 14 pelajar dari daerah yang berkesempatan mengikuti Program SabangMarauke 2016. Program ini mengusung misi menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan dan ke-Indonesiaan. 

"Kami ingin ajarkan indahnya keberagaman, berpikiran terbuka, berempati, perbedaan bukan yang harus dipermasalahkan. Nilai pendidikan tentang semangat belajar dan semangat rasa ingin tahu. Nilai Ke-Indonesiaan, agar mereka bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia," ujar Direktur Utama SabangMerauke 2016, Irma Sela Karlina. 

Dia mengatakan, selama tiga minggu, ke-15 pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) terpilih diajak berinteraksi langsung dengan mereka yang berasal dari suku bangsa dan agama yang berbeda. Mereka juga dibawa berkunjung ke sejumlah tempat di Jakarta, semisal Balaikota, Monas, rumah-rumah ibadah dan kampus-kampus di Jakarta. 

"Toleransi tidak bisa hanya diajarkan, tetapi toleransi harus dialami dan dikerjakan. Kami sengaja menempatkan anak-anak dari suku berbeda, agama berbeda, agar bisa benar-benar mengalami, bisa merasakan bahwa keberagaman itu indah," kata Sella. 

"Ketika kembali ke lingkungannya, diharapkan mereka bisa menyebarkan nilai-nilai toleransi, pendidikan dan ke-Indonesiaan," imbuh dia. 

Sebarkan toleransi di Sebatik 
Dion berkisah, tak seperti Jakarta, di Sebatik hanya ada dua agama, yakni Islam dan Kristen. Hanya saja, semakin sedikit agama tak menjamin kondisi kerukunan. Olok-olok berbau agama hampir setiap hari menjadi santapan khusus para pelajarnya. 

"Di Jakarta yang kota besar, toleransinya tinggi. Sedangkan di Sebatik, kota kecil, toleransinya rendah. Masih suka mengolok-olok antara agama satu dan lainnya. Biasanya muslim dan nasrani. Kata mereka, "Hei kau punya nabi itu disalib. Saya mau tegur dibilang mau ceramah," tutur dia. 

Sekarang, Dion mengaku punya strategi menghentikan olok-olok itu. 

"Sekarang saya tahu cara menegurnya, begini: "Di Jakarta itu kota besar, banyak suku, sedangkan di Sebatik itu hanya dua agama (Islam dan Kristen) saja mengapa bermusuhan. Sedangkan di Jakarta ada Hindunya, Budhanya," kata dia. 

"Mereka bekerjasama melakukan hal positif. Mesjid dan gereja berhadapan menandakan toleransi yang tinggi antara agama satu dengan yang lain. Di Sebatik, sudah pulaunya besar suku-sukunya sedikit, agamanya hanya dua, mengapa harus bertengkar, antara kaya dan miskin," pungkas Dion.


Oleh
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar