counter

BPBD: lebih 4.000 keluarga terdampak banjir Langkat

Langkat, Sumut (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebutkan sedikitnya 4.703 keluarga di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menjadi korban banjir.

Banjir di Kabupaten Langkat menggenangi wilayah empat kecamatan yaitu Tanjungpura, Secanggang, Hinai, dan Stabat.

"Banjir yang terjadi di wilayah Langkat ini karena curah hujan yang cukup tinggi dan meluapnya beberapa sungai diantaranya Sei Batang Serangan," kata Kepala Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Langkat Irwan Syahri di Stabat, Rabu.

Irwan menjelaskan, banjir terparah terjadi di Kecamatan Tanjungpura di mana rumah 3.562 keluarga terendam banjir di 10 desa yaitu Kelurahan Pekan Tanjungpura, Pekubuan, Lalang, Pantai Cermin, Paya Perupuk, Teluk Bakung, Pematang Cengal Barat, Baja Kuning, Pulau Banyak, Pematang Serai.

Selain itu di Kecamatan Secanggang sebanyak 251 rumah juga terendam banjir, meliputi di Desa Perkotaan, Karang Gading, Karang Anyar, Selotong, lalu di kecamatan Hinai ada sebanyak 480 rumah juga terendam banjir di Desa Cempa dan Desa Batu Malenggang.

Termasuk juga di kecamatan Stabat ibukota Kabupaten Langkat ada 410 rumah yang terendam banjir yaitu di Desa Pantai Gemi dan beberapa desa lainnya.

"Ada juga warga yang kini sudah mengungsi untuk menyelamatkan diri dari bencana banjir yang terjadi sekarang ini sebanyak 60 kepala keluarga di kecamatan Hinai," katanya.

Saat ini, air ada juga yang surut seperti di Secanggang dan Stabat, namun ada juga yang semakin naik seperti di Kecamatan Tanjungpura.

Khusus untuk kecamatan Tanjungpura, kenaikan diakibatkan air pasang perdani dari laut (Rob), sehingga air bertahan di pemukiman warga.

Berbagai upaya sekarang ini sudah dilakukan para warga maupun pemerintah kecamatan dan desa setempat agar air bisa surut seperti dengan memompa air, melakukan penutupan pintu klep dan memasang benteng-benteng dari goni.

BPBD juga sudah mengirimkan air bersih bekerja sama dengan PDAM Tirta Wampu Langkat kepada para pengungsi untuk bisa dimamfaatkan oleh mereka selama dalam pengungsian.

Pewarta: Imam Fauzi
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar