JH Hutasoit Diabadikan Jadi Auditorium Fapet IPB

Bogor (ANTARA News) - Guna memberikan penghargaan atas jasa dan pengabdiannya yang besar atas pengembangan ilmu peternakan di Indonesia, nama mendiang Prof Dr drh Jansen Humuntal (JH) Hutasoit, salah satu pendiri dan Dekan pertama Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), diabadikan menjadi nama auditorium di fakultas tersebut. Peresmian tokoh yang pada tahun 1983-1988 dipercaya oleh pemerintah RI memegang jabatan sebagai Menteri Muda Peternakan dan Perikanan itu, ditandai dengan dibukanya tirai penutup papan nama oleh Rektor IPB, Prof Dr Ir Ahmad Ansori Mattjik, MSc, yang didampingi istri mendiang Jansen Humuntal Hutasoit, Ny Tiominar Maria Br Marpaung Hutasoit. Dalam acara yang dihadiri antara lain oleh mantan Menteri Pertanian, Prof Dr H Syariefudin Baharsyah dan para alumni Fapet IPB itu juga diputarkan film sekilas perjalanan hidup JH Hutasoit. Rektor IPB, Achmad Ansori Matjjik mengatakan, sebenarnya gedung auditorium itu telah berdiri sejak tahun 1994, dan telah digunakan secara intensif oleh civitas akademika (Civa) IPB dalam melaksanakan Tridarma-nya. Namun, baru saat itu secara resmi gedung tersebut diberi nama salah satu perintis pendidikan peternakan di Indonesia. "Ini merupakan bukti bahwa kami tidak melupakan jasa para perintis pendidikan tinggi pertanian di lingkungan IPB," katanya. Sedangkan Dekan Fapet IPB, Dr Ir Ronny Rachman Noor, M.Rur.Sc, menambahkan, semasa hidupnya, JH Hutasoit senantiasa ada di dalam ruang lingkup pembangunan pertanian umumnya, dan peternakan serta perikanan khususnya. "Jadi, sudah sepatutnya kami atas nama Civa Fapet IPB, dengan restu dan persetujuan Senat Fapet IPB sepakat untuk mengusulkan kepada pimpinan IPB agar disetujui Auditorium Fakultas Peternakan IPB dengan nama Auditorium Jannes Humuntal Hutasoit," katanya. Prof JH Hutasoit lahir di Ribidang Tapanuli pada tanggal 16 September 1925. Merupakan anak pertama dari sembilan bersaudara. Masa kecilnya dihabiskan di Siborong-borong, dan pada usia remaja, tepatnya tahun 1941, ia menyelesaikan sekolah MULO di Tarutung, kemudian merantau ke pulau Jawa. Saat kuliah, ia bertemu dengan wanita bernama Tiominar Maria br Marpaung. Mereka menikah dan menetap di Kota Bogor. Pasangan ini dikaruniai lima orang anak, sembilan orang cucu, dan beberapa anak angkat dari berbagai suku dan agama, antara lain dari suku Jawa, Sunda, Aceh, Timor dan Batak. Membiayai dirinya sendiri saat masuk kuliah di IPB, yang saat itu masih bernama Universitet Indonesia, pada tahun 1953 ia meraih gelar sarjana kedokteran hewan Universitet Indonesia di Bogor. Kemudian pada tahun 1959 ia meraih gelar doktor dalam ilmu kedokteran hewan.(*)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2007

Komentar