"Seperti bom nuklir", kolera dan kehancuran setelah badai di Haiti

"Seperti bom nuklir", kolera dan kehancuran setelah badai di Haiti

Kerusakan akibat Badai Matthew terlihat dari udara di sepanjang pesisir barat Haiti, Kamis (6/10/2016). (Logan Abassi, courtesy of UN/MINUSTAH/Handout via REUTERS)

Kami berharap Tuhan memberi kami peluang untuk membangun kembali gereja dan membantu para korban di kawasan ini
Port-a-Piment (ANTARA News) - Penderita tiba setiap 10 atau 15 menit, dibawa dengan sepeda motor oleh kerabat dengan bahu diselimuti bekas muntahan dan diangkat melalui tangga ke rumah sakit Port-a-Piment Haiti, tempat mereka bisa mengistirahatkan tubuh akibat kolera.

Kurang dari sepekan sejak badai Matthew menghantam Haiti dan menewaskan setidak-tidaknya 1.000 orang, menurut hitungan pejabat setempat, negara itu menghadapi krisis kesehatan ketika kolera melanda masyarakat di daerah terpencil, yang kekurangan air bersih, makanan dan penampungan.

Reuters mengunjungi RS Port-a-Piment pada Minggu pagi, pada hari pertama jalanan utama di baratdaya Haiti sudah bisa dilalui mobil.

Pada saat itu, terdapat 39 penderita kolera, kata direktur kesehatan rumah sakit tersebut, Missole Antoine. Hingga siang, penderitanya mencapai 60 orang, dan empat pasien meninggal akibat penyakit yang ditularkan lewat air itu.

"Jumlah itu akan meningkat," kata Antoine, sambil berjalan di antara pasien-pasien yang terbaring di lantai rumah sakit.

Meskipun ada 13 kasus kolera sebelum Matthew melanda, Antoine mengatakan, kasusnya meningkat drastis sejak badai menghancurkan kawasan yang sangat miskin.

Rumah sakit kekurangan ambulans, atau bahkan mobil, dan Antoine mengatakan banyak pasien baru datang dari lokasi yang jauh, dan dibawa anggota keluarganya dengan tempat tidur kamp.

Di dalam rumah sakit, para orang tua berwajah muram memeluk anak-anak kecil dengan mata cekung dan tidak sanggup mengangkat kepala mereka sendiri.

"Saya percaya pada dokter, dan juga pada Tuhan," kata Roosevelt Dume (37) sambil menggendong anak lelakinya, Roodly, dan mencoba tetap optimistis.

Reruntuhan

Di jalanan, keadaan juga mengejutkan. Sepanjang dua mil lebih hampir seluruh rumah sudah menjadi reruntuhan dan besi-besi terpelintir. Kain warna-warni berserakan di antara reruntuhan.

Kebun pisang di kawasan tersebut dengan tanah. Masyarakat hanya bergantung pada kelapa yang jatuh untuk makanan dan minuman, karena bantuan pemerintah maupun asing tidak segera datang.

Bau busuk mayat, manusia maupun hewan, tercium dimana-mana.

Di desa Labei dekat Port-a-Piment, warga setempat mengatakan arus sungai menghanyutkan mayat-mayat dari desa-desa di hulu. Tanpa ada yang datang memindahkan mayat-mayat itu, warga menggunakan papan kayu apung untuk mendorong mereka masuk sungai sehingga bisa mengalir ke laut.

Di pantai, mayat seorang pria tergeletak di bawah terik matahari. Beberapa ratus meter di sebelah kirinya di selokan tepi jalan, tiga kambing mati terendam di lumpur beracun.

"Bagi saya ini nampak seperti ledakan bom nuklir," kata Paul Edouarzin, karyawan Program Lingkungan PBB yang bermarkas di dekat Port-a-Piment.

"Dalam hal kehancuran -lingkungan dan pertanian- saya bisa katakan bahwa 2016 lebih buruk daripada 2010," tambah dia, merujuk pada gempa bumi 2010 di mana Haiti belum pulih.

Warga terkena diare di desa Chevalier sudah mengetahui wabah kolera di dekat mereka, namun tidak memiliki banyak pilihan selain meminum air payau dari sumur setempat yang mereka yakini sudah terkontaminasi bangkai ternak.

"Kami ditelantarkan oleh pemerintah yang tidak pernah memikirkan kami," kata Marie-Ange Henry sambil memeriksa rumahnya, yang hancur.

Ia mengatakan, Chevalier belum menerima bantuan apapun dan banyak warga, seperti halnya dia, mengalami demam. Ia khawatir, kolera tengah menuju desanya.

Pastor Pierre Moise Mongerard bergantung pada bantuan Tuhan untuk menyelamatkan gerejanya, yang tanpa atap, di desa Torbeck. Dengan mengenakan baju terbaiknya -mantel, celana dan sepatu kulit coklat- ia bergabung dalam paduan suara kecil menyanyikan lagu, yang bergema hingga persawahan di sekitarnya.

"Kami berharap Tuhan memberi kami peluang untuk membangun kembali gereja dan membantu para korban di kawasan ini," katanya, sebelum musik menelan suaranya, dan ia perlahan bergabung dalam kidung, menutup matanya dan menengadahkan tangannya ke langit.

(Uu.S022)

Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Haiti minta AS dan PBB kirim pasukan pasca pembunuhan presiden

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar