counter

Pasukan TNI penjaga perbatasan di Papua mengajar di sekolah perbatasan

Pasukan TNI penjaga perbatasan di Papua  mengajar di sekolah perbatasan

Masyarakat Dusun Yakyu, Merauke, Papua, di garis perbatasan Indonesia-PNG, mengibarkan bendera Merah Putih pada 17 Agustus 2016. Upacara pengibaran bendera Merah Putih itu digagas Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia-PNG Markas Besar TNI/Batalion Infantri 407-Padmanegara, Letnan Kolonel Infantri Abi Kusnanto. (Batalion Infantri 407/Padmanegara)

Jayapura, Papua (ANTARA News) - Pasukan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia-PNG Markas Besar TNI yang juga Batalion Infantri 407-Padmakusuma ikut mengajar di SMP Negeri Erambu, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, yang tak jauh dari perbatasan Indonesia-PNG.

Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia-PNG Markas Besar TNI, Letnan Kolonel Infantri Abi Kusnianto, ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Papua, Minggu, mengatakan, personelnya di Pos Kotis Kaliwanggo ikut membantu SMP Negeri Erambu dengan menjadi guru bantu.

"SMP Negeri Erambu merupakan sekolah di Kampung Erambu, Distrik Sota, dimana para siswanya berasal dari dua kampung, yaitu Kampung Erambu dan Toray dan masih kekurangan tenaga pengajar atau guru,"katanya.

Selain melaksanakan tugas pokok menjaga garis perbatasan negara, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia-PNG Markas Besar TNI/Batalion Infantri 407-PK juga membantu warga setempat dengan menjadi guru bantu bagi sekolah-sekolah yang kekurangan tenaga pengajar di wilayah yang menjadi tanggung jawab masing-masing pos.

"Kami akan berupaya mengerahkan personel yang memiliki kemampuan di bidang pendidikan untuk menjadi tenaga pengajar. Menjadi guru bantu ini sebenarnya sudah kami siapkan sejak masih di satuan," katanya.

"Personil kami dibekali penataran dari Dinas Pendidikan maupun dari yayasan pendidikan pada saat penyiapan, namun karena ada beberapa tugas secara bersamaan, pelaksanaan di lapangan kami lakukan secara bergantian,"katanya.

Di SMP Negeri Erambu, kata dia, materi Ilmu Penetahuan Sosial dan baris-berbaris menjadi tanggung jawab dari anggota satuan tugas yang dia pimpin, sebagai guru bantu.

"Pelajaran yang diberikan selama satu minggu sebanyak tiga kali pertemuan. Para siswa-siswi ini canggung dan terkesan malu-malu waktu pertama kali personel datang memberikan pelajaran, namun seiring berjalan waktu dan kami kasih pengertian, mereka mengikuti pelajaran dengan antusias dan penuh semangat," kata Kusnianto.

Serka Sasmito, salah satu personel guru bantu membenarkan, ada beberapa perilaku siswa-siswi yang masih terkesan acuh dan tidak memperhatikan pelajaran yang diberikan karena asyik cerita.

"Tapi itulah yang menjadi tantangan bisa mengubah menjadi lebih baik. Sebagai tenaga guru bantu, kami akan berupaya menjadikan para siswa-siswi ini menjadi yang terbaik. Memang banyak kekurangan dan keterbatasan namun dengan semangat serta kemauan, kami pasti bisa," katanya.

Pewarta: Alfian Rumagit
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Menukar uang lusuh di pulau perbatasan dengan Malaysia

Komentar