Pendukung Hillary Clinton bereaksi atas hasil Pemilu 2016

Pendukung Hillary Clinton bereaksi atas hasil Pemilu 2016

Pendukung calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, berkumpul dalam kerumunan di luar ruangan, di Balai Sidang Jacob K Javits, di New York. Amerika Serikat, Selasa waktu setempat (8/11/2016). Clinton tidak unggul dari rivalnya, Donald Trump dari Partai Republik. Jika menang, Clinton adalah perempuan presiden pertama Amerika Serikat sejak negara federasi itu meraih kemerdekaannya pada 4 Juli 1776 dari kolonialis Inggris. (REUTERS/Mark Kauzlarich)

New York, Amerika Serikat (ANTARA News) - Kemenangan kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump, dalam Pemilu 2016 Amerika Serikat hingga terpilih menjadi presiden ke-45 negara itu menimbulkan beragam reaksi. 

Pendukung rivalnya dari Partai Demokrat yang juga bekas ibu negara Amerika Serikat, Hillary Clinton, umumnya sedih.

Hingga beberapa jam setelah Pemilu 2016 itu usai, Clinton mendapat 218 electoral college votes sementara Trump mendapat 276. Inilah Pemilu Amerika Serikat yang oleh banyak pengamat dan media massa setempat, disebut-sebut sebagai persaingan yang paling sengit di Amerika Serikat. 

Aturan dan tradisi berpolitik serta Pemilu Amerika Serikat menyatakan, pemenang adalah pihak yang mendapat 270 atau lebih electoral college votes itu. Sistem Pemilu Amerika Serikat memang lebih rumit ketimbang kebanyakan negara demokratis di Dunia.

"Jujur saya merasa sangat kecewa dengan Pemilu ini. Trump itu lelucon bagi negara ini. Dia tidak mampu membuat kebijakan yang baik," ujar Anthony, seorang remaja AS berusia 19 tahun saat ditemui di kawasan Time Square, New York, Rabu pagi waktu setempat.

Anthony sedih dengan hasil pemilihan presiden Amerika Serikat itu, namun dia mengatakan hanya bisa pasrah dengan hasil yang ada.

"Saya kesal dan sedih dengan hasil Pemilu ini, tetapi saya hanya akan melihat ke arah mana pemerintahan yang baru ini," kata dia.

Remaja pria Amerika Serikat itu pergi dengan wajah muram menjauhi layar besar di Time Square yang menampilkan hasil pemilu sambil membawa tas dan bendera Amerika Serikat di pundaknya.

Roxanne Hancock, seorang perempuan warga kulit hitam Amerika Serikat, mengatakan, dia sanga terkejut dengan hasil Pemilu 2016 negaranya yang dimenangi Trump.

"Ini sangat mengejutkan. Apa yang salah dengan Amerika?," ujar dia.

Roxanne salah satu dari pendukung Clinton yang sedih dan terkejut dengan hasil Pemilu Amerika Serikat itu.

Sementara itu, di Gedung Pertemuan Jacob K Javits, di New York --tempat di mana Clinton dan kubu Partai Demokrat seharusnya merayakan malam Pemilu Amerika Serikat dan memberi pidato kemenangan-- suasana berangsur-angsur menjadi sepi.

Deberapa pendukung Clinton keluar gedung sambil menangis atau dengan mata berkaca-kaca.

Kemenangan Trump yang bercerai dengan istri pertamanya, Ivana, dalam Pemilu 2016 ini memang mengejutkan beberapa pihak. 

Trump berhasil memenangi suara di sejumlah negara bagian dengan kecenderungan mengambang --bukan merupakan wilayah tradisional Partai Republik maupun Partai Demokrat dan selalu menjadi kunci dalam pemenangan kursi presiden-- di antaranya Ohio dan Florida.

Trump bahkan secara mengejutkan juga merebut sejumlah negara bagian yang diperkirakan, oleh jajak pendapat dari Washington Post, akan dimenangi dengan aman oleh Clinton, di antaranya Pennsylvania, Wisconsin, dan Iowa.

Pewarta: Yuni Arisandy
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Situs Departemen Luar Negeri AS mengakhiri jabatan Trump sembilan hari lebih awal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar