Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan pemerintah terus mengupayakan kerja sama antarnegara untuk mencegah penculikan anak buah kapal (ABK) di perairan asing.

"Pemerintah selalu melakukan upaya untuk mengurangi aksi penculikan. Ini kan terjadi di luar wilayah perairan Indonesia, perahunya bukan Indonesia. Maka caranya sekarang secara intens melakukan kerja sama dengan negara yang tersangkut masalah ini, dengan Malaysia dan Filipina," kata Wiranto di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan kerja sama antarnegara terus ditingkatkan terkait penculikan berulang kali terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai ABK di perairan asing.

"Memang kalau soal kebersamaan menanggulangi itu sudah ada, agreement (perjanjian kerja sama) antara Menteri Pertahanan kita sudah ada satu kegiatan marshall system dalam memberikan bantuan kekuatan bersenjata kepada nelayan yang berlayar di tempat kritis. Itu aman. Tetapi penculikannya terjadi di wilayah Malaysia yang mereka tidak mengamankan itu," ujarnya.

Untuk itu, Wiranto mengatakan perlunya mencari cara baru antara tiga negara ini agar perairan tetap aman dari aksi penculikan.

"Kita sudah berusaha memberikan perlindungan. Kembali lagi tadi sumbernya adalah para penculik itu," tuturnya.

Wiranto juga mengatakan pemerintah Indonesia sudah bersedia memberikan bantuan operasi pembersihan terhadap sumber-sumber penculikan itu.

Menurut dia, para penculik itu harus segera diberantas sehingga tidak menimbulkan penculikan atau penyanderaan ABK di kemudian hari.

"Penculik ini masih eksis lah. Sumber masalahnya ya penculik-penculik itu. Penculik itu yang harus dihabiskan, itu memang urusannya Filipina dan Malaysia," ujarnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Komando Pengamanan Timur Sabah (Esscomm) mengonfirmasi terjadinya penculikan dua nelayan asal Indonesia. Mereka diculik di Lahad Datu, Sabtu (19/11).

Kepala Escomm Datuk Wan Abdul Bari Wan Abdul Khalid mengatakan insiden tersebut terjadi pada sekitar pukul 07.30 waktu setempat, saat sejumlah nelayan sedang melaut di wilayah Merabung.

Kapal nelayan dengan 13 orang di dalamnya berada di area tersebut sejak sekitar pukul 06.30 pagi didatangi lima pria bertopeng dan membawa senjata laras panjang.

Kelima orang tersebut menyerbu kapal dan menghancurkan sistem komunikasi kapal serta merampas seluruh ponsel dan uang milik kru kapal.

Kelompok bersenjata tersebut membawa dua kru kapal WNI dan langsung melarikan diri ke perairan internasional dan kru lainnya telah ditolong oleh kapal nelayan lainnya.

Pewarta: Martha HS
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2016