Batam (ANTARA News) - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kepri dibantu Mabes Polri mulai melakukan identifikasi dengan mengambil DNA potongan jenazah korban pesawat terbang Polri M-28 Sky Truck yang jatuh di Perairan Lingga Batam pada Sabtu (3/12) siang.

"Hari ini tim kami mulai bekerja mengambil DNA dari masing-masing bagian tubuh untuk dicocokkan satu dengan yang lain," kata Kabid Dokkes Polda Kepri AKBP Jarot Wibowo di Batam, Senin.

Ia mengatakan, sejauh ini korban yang ditemukan oleh tim evakuasi merupakan potongan-potongan tubuh korban pesawat yang diketahui jatuh dan meledak di laut.

"Jadi nanti akan dicocokan satu dengan yang lain dan disandingkan dengan data ante mortem yang masuk," kata dia.

Jarot mengatakan, sejauh ini yang sudah masuk ke RS Bhayangkara Polda Kepri di Batam terdiri dari empat kantung jenazah dan satu kotak sterofom berisi bagian-bagian tubuh korban.

"Bantuan dari Mabes Polri yaitu satu ahli DNA dan satu senor ahli forensik sudah tiba di RS Bhayangkara untuk membantu proses identifikasi," kata Jarot.

Ia mengatakan, secara total ada 30 orang petugas yang akan terlibat dalam proses identifikasi jenazah korban pesawat jatuh di Lingga.

Kapolda Kepri, Brigjen Pol Sam Budigusdian sebelumnya mengatakan diantara empat kantong jenazah tersebut hanya satu yang berisi korban relatif utuh sehingga belum bisa dipastikan identitasnya.

"Yang satu tubuh dan relatif utuh. Yang lainnya merupakan bagian-bagian tubuh saja," kata dia.

Pesawat M-28 Sky Truck terbang dari Jakarta menuju Pangkal Pinang dengan 16 orang didalamnya. Di Pangkal Pinang tiga orang turun. Sementara yang melanjutkan penerbangan menuju Batam sebanyak 13 orang terdiri lima kru dan delapan penumpang.

Namun pesawat tersebut hilang kontak saat terbang diatas wilayah Kabupaten Lingga dan kemudin diketahui jatuh di peraran utara Kabupaten Lingga pada Sabtu siang.

"Hingga saat ini belum bisa dipastikan apakah ada korban selamat. Selin korban meninggal, ada tas dan identitas korban yang sudah ditemukan juga," kata Sam.

Pewarta: Larno
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2016