Divonis 7 tahun, Rohadi pasrah: "saya tidak peduli dunia lagi"

Divonis 7 tahun, Rohadi pasrah: "saya tidak peduli dunia lagi"

Terdakwa kasus dugaan suap di Pengadilan Negeri Jakarta Utara Rohadi divonis penjara tujuh tahun. (ANTARA/Muhammad Adimaja)

Jakarta (ANTARA News) - Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Rohadi menerima vonis 7 tahun yang dijatuhkan kepadanya karena menerima suap Rp300 juta dari pengacara untuk mengurus kasus asusila Saipul Jamil dengan menyatakan dia sudah tidak peduli lagi pada dunia.

"Saya sudah pasrah, sudah menerima. Saya sudah tidak peduli dunia lagi. Saya tidak peduli tinggi rendahnya putusan. Saya tidak akan melakukan perlawanan apa apa lagi (banding). Tolong jangan dibuat seolah saya tidak menerima," kata Rohadi setelah sidang pembacaan putusan di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis.

Majelis hakim yang terdiri atas Sumpeno, Jhon Halasan Butarbutar, Frankie Tumbuun, Ansyori Syafuddin dan Idris Amin itu menyatakan Rohadi terbukti menerima Rp300 juta dari abang Saipul Jamil, Samsul Hidayatullah, melalui pengacara Berthanatalia Ruruk Kariman dan Kasman Sangaji agar putusan Saipul lebih ringan dari tuntutan jaksa.

Rohadi divonis 7 tahun penjara ditambah denda Rp300 juta subsider 3 bulan kurungan, lebih rendah dari tuntutan 10 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 5 bulan kurungan yang diajukan jaksa.

"Terdakwa memanfaatkan jabatan panitera pengganti dan sepanjang persidangan terdakwa mengaku tidak mendapatkan sesuatu apapun saat membantu karena hanya untung-untungan semata, bantahan itu harus dikesampingan karena berdiri sendiri dan bertolak belakang dengan alat bukti lainnya," tegas hakim Idris.

Pengacara Rohadi, Mudarwan Yusuf, tidak sepakat dengan pertimbangan hakim.

"Kita lihat pertimbangan banyak yang kurang sependapat dengan kita. Tapi karena sikap ini diambil langsung terdakwa (menerima) kita tidak bisa berbuat apa-apa," kata Mudarwan.

Tetapi Mudarwan menyatakan tidak akan mengajukan banding terhadap putusan.

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar

  1. Rose

    Sambil menunggu pengadilan tertinggi ya jalanin dulu pengadilan dunia yang sebelumnya dipaniterainnya. Semoga mendapatkan petunjuk, yakinlah tidak akan ada demo penistaan agama untukmu.