Kemarin mereka meminta (tetap ada ekspor nikel dan bauksit) tapi saya jelaskan, `Kalau orang lain bisa buat kenapa kalian tidak bisa?`. Saya sarankan silakan buat smelter apa saja yang mereka mau."
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meminta agar Jepang bisa membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral atau smelter di Indonesia.

"Saya minta Jepang membangun smelter di daerah Sulawesi. Mereka akan mengirim tim untuk melihat Morowali, Sulawesi Tengah, sebagai model mereka," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat.

Menurut Luhut, di kawasan Morowali terdapat smelter berkapasitas raksasa yang dibangun China, di mana smelter itu mengolah bijih nikel hingga dapat menghasilkan produk bernilai tambah tinggi seperti stainless steel.

Oleh karena itu, mantan Menko Polhukam itu menantang Jepang agar tidak kalah dengan China yang bisa membangun smelter.

"Kemarin mereka meminta (tetap ada ekspor nikel dan bauksit) tapi saya jelaskan, Kalau orang lain bisa buat kenapa kalian tidak bisa?. Saya sarankan silakan buat smelter apa saja yang mereka mau," ungkapnya.

Dalam kunjungan kerjanya ke Jepang pada 20-21 Desember lalu, Luhut mengaku melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Shinzo Abe dan membahas mengenai rencana pemerintah Indonesia melarang ekspor bijih mineral.

Menurut dia, larangan ekspor bijih mineral diberlakukan demi kesejahteraan rakyat Indonesia melalui peningkatan kapasitas industri pengolahan nasional.

"Saya jelaskan pada PM Abe bahwa itu dilakukan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia," katanya.

Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pelaksana Kegiatan Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan mengenai kewajiban hilirisasi sektor tambang di mana ekspor mineral mentah dilarang mulai Januari 2017.

Luhut sebelumnya memastikan tidak akan memberikan kelonggaran (relaksasi) untuk ekspor bijih nikel dan bauksit mulai 2017.

Hal dilakukan pemerintah agar cadangan nikel dan bauksit Indonesia yang besar bisa dimanfaatkan sepenuhnya di dalam negeri melalui kegiatan hilirisasi.

Dengan diolah di dalam negeri, Indonesia akan mendapatkan nilai tambah (value added) dibanding langsung mengekspor dalam bentuk mineral mentah. Di samping itu, Indonesia juga tidak perlu bergantung pada negara lain untuk mengimpor produk stainless steel.

Pewarta: Ade Irma Junida
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2016