Busana bermaterial sarung belum populer di kalangan anak muda

Busana bermaterial sarung belum populer di kalangan anak muda

Perajin menyelesaikan pembuatan sarung tenun motif Luung di salah satu UKM di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (24/6). Perajin menyatakan selama bulan puasa pesanan sarung tenun mengalami kenaikan hingga 50 persen tapi perajin hanya bisa menaikan jumlah produksi hingga 25 persen saja karena kurangnya alat tenun. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)

Jakarta (ANTARA News) - Kendati perancang busana tanah air telah memperkenalkan busana dengan modifikasi sarung, namun busana menggunakan material kain berbahan katun, poliester atau bahkan sutera itu belum populer di kalangan anak muda.

Hal ini salah satunya diakui pengamat mode Susan Budihardjo. Menurut dia hingga saat ini anak-anak muda belum menggunakannya secara luas --sebagian mengenakan sarung hanya untuk keperluan terbatas semisal ibadah.   

"Pemakaian sarung memang sampai saat ini masih sebagian kecil saja yang  bisa bergaya dengan sarung . Memang menurut saya kurang digalakkan," kata Susan, saat dihubungi ANTARA News, Rabu.

Hal ini, sambung dia, karena kesan sarung yang terbatas untuk keperluan ibadah atau upacara tradisional.

"Karena biasanya pengertian di benak orang, sarung hanya untuk keperluaan terbatas seperti ke mesjid atau kalau sedang pakai baju daerah. Padahal pakai sarung bisa bergaya trendy," sambung Susan.

Padahal, menurut Susan, sarung bisa dimodifikasi mengikuti tren. Misalnya memodifikasinya menjadi atasan, yang berpadu dengan denim atau dress.

"Walau bagaimana pun kita kan harus mengikuti trend jadi sarung traditional kan juga bisa dipakai jadi terkesan gaya," kata dia.

Oleh Lia Santosa
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Selama Ramadhan, omset penjualan sarung batik meningkat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar