Tokyo (ANTARA News) - Keputusan FIFA untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia menjadi 48 tim akan menjadi katalis bagi perkembangan sepak bola di negara-negara yang terpinggirkan dari turnamen sepak bola utama itu, demikian Presiden Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) Kozo Tashima.

Tashima adalah anggota Dewan FIFA, yang pada Selasa memilih untuk menambahi 16 tim pada jumlah 32 tim saat ini dari edisi 2026 turnamen ini.

Sejumlah kritik mencemaskan ekspansi itu akan menurunkan standar keseluruhan turnamen, namun Tashima menegaskan dengan memberi contoh Jepang, yang telah ambil bagian pada lima Piala Dunia terakhir, dan mengatakan itu akan menghadirkan dorongan bagi perkembangan sepak bola secara global.

"Banyak tim di Asia juga begitu dekat untuk siap sepenuhnya untuk berpartisipasi" kata Tashima kepada Reuters pada Kamis.

"Jepang sama saja ketika kami pertama kali berpartisipasi pada 1998. Kami mencicipi rasa seperti apa sepak bola pada level dunia dan mampu untuk tampil konsisten pada lima Piala Dunia berikutnya. Ini berkontribusi begitu besar terhadap perkembangan sepak bola Jepang."

"Saya percaya negara-negara di Asia, Oseania, Eropa, contohnya Islandia, dan negara-negara kecil lain layak memiliki kesempatan yang sama."

Kashima menegaskan kemenangan Islandia atas Inggris di Piala Eropa untuk mencontohkan poinnya.

"Di masa lalu, turnamen-turnamen lebih mengenai Eropa melawan Amerika Selatan, namun sekarang, banyak tim nasional lain menjadi lebih kuat," tuturnya.

"Kami sekarang berada dalam generasi di mana bahkan Islandia mampu mengalahkan Inggris. Keputusan kami berdasarkan pada fakta bahwa penambahan jumlah tim akan menjadi, tanpa diragukan, kemajuan sepak bola, secara global."

Titik pembicaraan lain di sepak bola Asia adalah uang yang digelontorkan klub-klub Liga China untuk menarik pemain-pemain papan atas dari luar negeri.

Tashima berpikir bahwa hal itu akan sangat membantu persepak bolaan Jepang.

"Menurut saya ini sangat normal bahwa pemain-pemain masuk ke pasar dengan menghargai diri mereka dengan tinggi," tuturnya.

"Maka ketika pemain-pemain pergi ke China, level sepak bola China naik. Saya tidak berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan hal itu. Hal yang harus kami lakukan adalah membangun tim-tim yang dapat menandingi kekuatan mereka, dan terkait hal itu, ini menjadi stimulasi yang bagus untuk kami."

Ia menyarankan China untuk meniru model Jepang.

"Jepang melakukan hal yang sama pada 1990-an ketika Liga Jepang pertama kali dibentuk. Namun hal yang penting adalah, kami yakin bahwa kami menilai pemain-pemain ini memang merupakan pemain yang bagus, dan meyakinkan bahwa mereka benar-benar berkontribusi kepada sepak bola Jepang," tambahnya.

"Penting bagi China untuk melakukan hal yang sama," kata Tashima dilaporkan oleh Reuters.

(H-RF/D011)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2017