Suap Rolls-Royce, yang dituduhkan dan yang diakui

Oleh Gilang Galiartha

Suap Rolls-Royce, yang dituduhkan dan yang diakui

Mesin pesawat Trent 900 keluaran Rolls-Royce yang melekat pada pesawat Boeing A380. (wikimedia)

Jakarta (ANTARA News) - Raksasa manufaktur permesinan Inggris, Rolls-Royce, pada Selasa (17/1) lalu meminta maaf setelah terbukti memberikan suap berupa uang dan barang mewah kepada pihak perantara untuk mengamankan bisnis pengadaan mesin pesawat di beberapa negara, termasuk Indonesia, Rusia dan China.

Sebelum Rolls-Royce akhirnya menyampaikan pengakuan di hadapan Pengadilan Tinggi di London serta kepada Pengadilan Distrik Selatan Negara Bagian Ohio, Amerika Serikat, surat kabar Guardian pada 31 Oktober 2016 menurunkan hasil investigasi mereka bersama BBC terkait 12 negara yang diduga menjadi tempat Rolls-Royce melakukan praktik suap.

Berikut adalah perbandingan hasil investigasi dan fakta persidangan terkait 12 negara tersebut:

1. Brasil
Investigasi: Pada 2015, penyidik antikorupsi Brasil mengungkapkan skandal korupsi terbesar di negeri mereka, hingga menjatuhkan Dilma Roussef dari kursi kepresidenan. Banyak perusahaan diduga menyuap pejabat perusahaan minyak negara Brasil, Petrobas. Rolls-Royce diduga menyuap Petrobas senilai 200.000 dolar AS (Rp2.686.200.000) untuk memenangi kontrak kerja pengadaan alat kilang minyak.

Fakta: Di Pengadilan Negara Bagian Ohio, AS, Rolls-Royce mengakui telah menggunakan perantara untuk menyuap sekira 9,3 juta dolar AS (Rp124.908.300.000) untuk menyuap pejabat Petrobas untuk mendapatkan sejumlah kontrak kerja sepanjang periode 2000-2013.

2. India
Investigasi: Pada 2013, Rolls-Royce mengakui lalai mengungkapkan penggunaan perantara untuk mendapatkan kontrak kerja di bidang energi dari BUMN setempat. Mereka diminta mengumumkan nilai komisi perantara untuk kontrak tersebut. Selain itu, kepolisian India tengah memeriksa kesepakatan jual beli senjata yang melibatkan Rolls-Royce pada periode 2007-2011.

Fakta: Di Pengadilan Tinggi London, Inggris, menyebutkan di India, yang melarang penggunaan perantara untuk mengamankan kontrak kerja pertahanan, Rolls-Royce menyamarkan praktik tersebut dengan melabelinya sebagai "layanan konsultasi umum", selain juga mengakui mengeluarkan uang untuk membeli data bocor terkait daftar perantara yang bisa digunakan setelah mereka diproses oleh otoritas pajak setempat.

3. China
Investigasi: Pengasuh laman blog anonim Soaring Dragon menduga Rolls-Royce membayar uang suap dalam jumlah besar kepada dua pejabat China pada 2005 dan 2010 untuk memenangi kontrak kerja dari dua maskapai negara tersebut. Salah satu dari dua pejabat tersebut akhirnya dipenjara seumur hidup, namun nama Rolls-Royce tak muncul sebagai daftar penyuap dalam fakta persidangan.

Fakta: Di Pengadilan Tinggi London, Inggris, menyebutkan di China, Rolls-Royce gagal mencegah suap terakhir penambahan utang senilai 5 juta poundsterling (Rp82.539.643.500) kepada maskapai China Eastern Airlines (CEA) sebagai ganti pembelian mesin pesawat pada 2013. Sebagian uangnya diguanakan untuk membayar biaya kelas dua pekan setingkat MBA bagi beberapa pegawai CEA di Universitas Columbia, termasuk "fasilitas akomodasi bintang empat dan aktivitas ekstrakurikuler mewah".

4. Indonesia
Investigasi: Mantan pegawai Rolls-Royce dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Guardian pada 11 Desember 2012 mengklaim bahwa perusahaan tersebut telah menyuap putra mantan Presiden Soeharto, Tommy Soeharto, untuk mempengaruhi Garuda Indonesia membeli mesin mereka pada era 1990-an. Tommy belakangan membantah ia telah menerima uang maupun mobil mewah dari Rolls-Royce lewat laporan yang diturunkan Guardian pada 25 November 2013.

Fakta: Di Pengadilan Tinggi London, Inggris, Rolls-Royce mengaku telah melakukan suap berupa uang senilai 2,25 juta dolar AS (Rp30.224.250.000) dan sebuah mobil Rolls-Royce Silver Spirit kepada seseorang untuk jasa "dukungan terhadap kontrak kerja bagi Rolls-Royce" mengadakan mesin pesawat Trent kepada Garuda Indonesia. Selain itu mereka juga menyuap perwakilan perusahaan pesaing untuk memasukkan proposal yang tidak kompetitif demi memuluskan kontrak kerja Rolls-Royce.

Belakangan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 19 Januari 2017 menetapkan dua tersangka terkait pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce kepada PT Garuda Indonesia (Persero) yakni mantan Direktur Utama Garuda Indonesia 2005-2014, Emirsyah Satar, dan Beneficial Owner Connaught International Pte. Ltd., Soetikno Soedarjo.


Tersangka KPK mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar (ANTARA/Zarqoni Maksum)


Emirsyah diduga menerima suap melalui Soetikno dalam bentuk uang dan barang senilai 1,2 juta euro dan 180 ribu dolar AS atau setara Rp20 miliar, terkait pengadaan pesawat besar-besaran, termasuk saat pembelian 11 pesawat Airbus 330-300 senilai 2,54 miliar dolar AS pada April 2012.


5. Afrika Selatan
Investigasi: Mantan ajudan Menteri Pertahanan Afsel, Fana Hlongwane, terlibat dalam skandal jual beli senjata dan pada 2008 dituduh menyampaikan suap untuk mengamankan kontrak jual beli senjata bagi perusahaan Inggris, BAE. Meski ia belakangan tidak dijatuhi hukum. 

Sebuah dokumen yang bocor mengungkapkan bahwa pada 2005 ia dipekerjakan Rolls-Royce sebagai konsultan komersial untuk "mendukung dan mempromosikan" bisnis mereka di negara tersebut, dengan kompensasi sebesar 140.000 poundsterling (Rp2.309.046.560).

Fakta: Sejauh ini baik data persidangan di AS maupun Inggris belum memuat pengakuan dari Rolls-Royce terkait Afsel.

6. Angola
Investigasi: Rolls-Royce menggunakan jasa perantara di negeri kaya minyak tersebut untuk mengamankan kontrak-kontrak besar dengan BUMN energi setempat, Sonangol, berdasarkan dokumen bocor yang didapatkan Fairfax Media. Selama periode 2008-2013, perusahaan itu juga disebutkan bermitra dengan Unail serta sebuah perusahaan perantara lain untuk mengamankan kontrak senilai 110 juta dolar AS (Rp1.476.420.000.000).

Fakta: Di Pengadilan Negara Bagian Ohio, AS, Rolls-Royce mengakui telah menggunakan perantara untuk membayar suap sekira 2,4 juta dolar AS (Rp32.212.800.000) kepada pejabat Sonangol, untuk memperoleh tak kurang dari tiga kontrak kerja selama periode 2008-2012.

7. Irak
Investigasi: Setelah Perang Irak berakhir, Rolls-Royce menggunakan jasa Unaoil untuk membantu memenangkan kontrak-kontrak kerja dengan BUMN energi setempat, Southern Oil Company. Selama periode 2007-2011, Rolls-Royce berusaha keras untuk memperoleh kontrak jual beli tiga turbin industrial.

Fakta: Di Pengadilan Negara Bagian Ohio, AS, Rolls-Royce yang memasok turbin kepada BUMN energi setempat pada 2006-2009 diancam oleh sejumlah pejabat Irak bakal masuk daftar hitam lantaran keraguan kualitas turbin, perusahaan tersebut meresponnya dengan membayarkan suap kepada pejabat setempat untuk memuluskan kontrak turbin dan membatalkan daftar hitam.

8. Iran
Investigasi: Pada 2008, anak perusahaan Unaoil dipilih Rolls-Royce untuk menjadi perwakilan mereka di Iran, meski kontrak itu dibatalkan hanya setahun berselang lantaran untuk menyelamatkan reputasi perusahaan. Sebelumnya, Rolls-Royce menjual komponen industrial untuk negara itu lewat beberapa perusahaan perantara.

Fakta: Sejauh ini baik data persidangan di AS maupun Inggris belum memuat pengakuan dari Rolls-Royce terkait Iran.

9. Kazakhstan
Investigasi: Unaoil menjadi wakil Rolls-Royce di Kazakhstan sejak 2008, berusaha mengamankan kontrak yang berkontribusi terhadap proyek pipa minyak China-Kazakhstan. Menurut pengacara Unaoil, kemitraan itu masih aktif hingga Juli 2014, meski dugaan korupsi di tubuh Unaoil merebak tahun 2013.

Fakta: Di Pengadilan Negara Bagian Ohio, AS, Rolls-Royce mengaku pada 2009-2012 membayar komisi sekira 5,4 juta dolar AS (72.478.800.000) kepada sejumlah penasihat, dengan pengertian sebagian dari uang komisi tersebut diberikan sebagai suap kepada pejabat berpengaruh terkait perusahaan pipa minyak China-Kazakhstan. 

Kemudian pada 2012, mereka juga menunjuk ditributor Kazakhstan, yang diketahui milik salah seorang petinggi pemerintahan setempat dengan salah satu kewenangan memberikan izin operasional Rolls-Royce di negara tersebut. 

Selama periode itu pula, Rolls-Royce memperoleh sejumlah kontrak kerja dari perusahaan patungan pipa minyak China-Kazakhstan.

10. Azerbaijan
Investigasi: Rolls-Royce menggunakan jasa Unaoil untuk mengamankan kontrak kerja di Azerbaijan sejak 2001, hubungan kedua perusahaan belakangan berhenti pada 2006, lantaran pekerjaan yang jarang, muncul rencana untuk menjadi operasional Unaoil di Baku diakuisisi sebagai divisi internasional Rolls-Royce ketimbang ditutup.

Fakta: Di Pengadilan Negara Bagian Ohio, AS, Rolls-Royce mengakui pada periode 2000-2009 menggunakan perantara untuk menyuap pejabat BUMN energi setempat sekira 7,8 juta dolar AS (Rp104.691.600.000), untuk mendapatkan sejumlah kontrak kerja pada periode yang sama.

11. Nigeria
Investigasi: Lembaga antikorupsi Inggris, Serious Fraud Office (SFO), menyelidiki kemungkinan Rolls-Royce dan perantaranya terlibat suap terhadap pejabat pemerintah untuk memenangi kontrak kerja energi pada 2013, demikian dilaporkan Financial Times. Rolls-Royce dilaporkan tak lagi menggunakan jasa perantara tersebut, mengatakan kepada surat kabar tersebut mereka tak tahu menahu tentang investigasi SFO.

Fakta: Di Pengadilan Tinggi London, Inggris, Rolls-Royce mengakui gagal mencegah suap terkait dua kontrak kerja yang sempat mereka incar. Perantara yang dipekerjakan perusahaan menyuap pejabat setempat, meski belakangan Rolls-Royce menarik diri dari kedua kontrak kerja tersebut, akibat kekhawatiran yang muncul berdasarkan informasi rahasia dari kompetitor.

12. Arab Saudi
Investigasi: Jual beli pesawat tempur Al-Yamamah dengan perusahaan Inggris, BAE, santer dikabarkan berlumur korupsi. Persidangan di akhir 1990-an mengungkapkan bahwa Rolls-Royce, yang memasok mesin untuk pesawat tempur itu, menyuap keluarga kerajaan Arab Saudi sebesar 23 juta poundsterling (Rp379.466.088.800). Hal itu muncul ke permukaan lantaran keluarga kerajaan Arab Saudi itu melayangkan gugatan, mengklaim Rolls-Royce sebetulnya menjanjikan nominal yang jumlahnya hampir dua kali lipat. Hal itu akhirnya diselesaikan tanpa menempuh jalur hukum.

Fakta: Sejauh ini baik data persidangan di AS maupun Inggris belum memuat pengakuan dari Rolls-Royce terkait Arab Saudi.

Selain 12 negara yang sempat muncul dalam investigasi Guardian dan BBC, belakangan Rolls-Royce mengakui di Pengadilan Tinggi London, Inggris, dan Pengadilan Negara Bagian Ohio, AS, mereka juga melakukan suap di Thailand dan Rusia.


Di Pengadilan Negara Bagian Ohio, AS, Rolls-Royce mengakui telah menyuap 11 juta dolar AS (Rp147.752.000.000) kepada pejabat BUMN energi setempat, melalui perantara, untuk mendapatkan sekira tujuh kontrak kerja pada periode 2000-2013.

Di Pengadilan Tinggi London, Inggris, Rolls Royce mengakui telah membayar perantara senilai 36 juta dolar AS untuk mengamankan tiga kontrak kerja pasokan pesawat bermesin Trent kepada Thai Airways dalam periode 1991-2005.

Di Pengadilan Tinggi London, Inggris, Rolls Royce mengakui telah memenangi kontrak kerja pemasokan komponen kepada BUMN energi setempat, Gazprom, setelah menyuap pejabat tinggi perusahaan tersebut.

Oleh Gilang Galiartha
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar