Tujuh sekolah di Manggarai Timur diterjang badai

Tujuh sekolah di Manggarai Timur diterjang badai

Ilustrasi - Sekolah ambruk (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)

Data sementara kerusakan gedung yang kami himpun adalah tujuh gedung sekolah, satu rumah ibadah dan satu aula paroki
Kupang (ANTARA News) - Sedikitnya tujuh gedung sekolah di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur ambruk diterjang badai sehingga membuat aktivitas belajar mengajar menjadi terganggu.

"Selain itu, satu rumah ibadah dan satu gedung pertemuan (aula paroki) juga roboh karena dihantam angin kencang yang melanda wilayah itu selama lebih dari sepekan ini," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai Timur Anton Dergon kepada Antara melalui telepon dari Borong, Jumat.

Dia mengemukakan hal itu ketika dikonfirmasi dari Kupang terkait kerusakan yang terjadi akibat hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur selama lebih dari sepekan terakhir.

"Data sementara kerusakan gedung yang kami himpun adalah tujuh gedung sekolah, satu rumah ibadah dan satu aula paroki," katanya menambahkan.

Disamping itu, banyak sekali tanaman milik petani yang mengalami kerusakan, akibat diterpa angin kencang maupun banjir dan tanah longsor.

Dia mengatakan, laporan kerusakan ini masih bersifat sementara karena para petugas belum bisa fokus melakukan pendataan di lapangan, karena cuaca yang kurang bersahabat.

Para petugas, kata dia, hanya bersiaga untuk memberikan bantuan-bantuan darurat kepada warga yang mengalami musibah karena bencana.

"Kalau cuaca sudah membaik, maka kami akan segera melakukan pendataan sekaligus menghitung besaran kerugian yang diakibatkan bencana angin kencang tersebut," katanya.

Menurut dia, sejauh ini belum mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah provinsi karena bencana-bencana yang terjadi di daerah ini, masih bisa ditangani oleh petugas di daerah dengan persiapan yang ada.

"Dalam penanganan bencana alam, sudah ada standar. Kalau daerah tidak bisa tangani baru meminta bantuan ke provinsi," katanya.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar