counter

Empat alasan yang menggagalkan bulan madu

Oleh Nanien Yuniar

Empat alasan yang menggagalkan bulan madu

Ilustrasi pasangan suami-isteri.(Pexels)

Jakarta (ANTARA News) - Bulan madu biasanya jadi hari yang tak kalah dinantikan setelah hari pernikahan berakhir. Namun, ada kalanya pasangan harus mengubur impian untuk berlibur sejenak menghabiskan waktu bersama suami/istri yang terkasih karena alasan-alasan berikut:

1. Tidak ada bujet
Bila memang berencana berlibur, sisihkan sebagian dana persiapan pernikahan untuk bulan madu. Jangan hanya mengandalkan “angpau” yang terkumpul dari resepsi.

“Kalau 100 persen bujet benar-benar dipakai untuk pernikahan, tidak ada uang yang tersisa untuk bulan madu,” kata David Soong, Founder dan CEO penyedia jasa foto liburan SweetEscape yang juga memotret pasangan yang berbulan madu di berbagai negara.

2. Pekerjaan kantor menumpuk
Mempersiapkan pernikahan biasanya menyita pikiran, tenaga dan waktu. Pekerjaan di kantor bisa terbengkalai dan menumpuk saat memikirkan konsep untuk akad nikah, resepsi hingga undangan. Begitu hari bahagia telah dilewati, pekerjaan yang menggunung mau tidak mau harus diselesaikan. Ucapkan selamat tinggal pada bulan madu.

3. Sibuk mengurus rumah baru
Urusan pernikahan tuntas, giliran rumah baru yang menyita konsentrasi. Ketimbang memikirkan destinasi mana yang asyik untuk bulan madu, pikiran tersita pada warna cat yang cocok untuk kamar tidur atau perabotan apa yang harus dibeli untuk mengisi rumah baru.

4. Anak
Pasangan yang sudah disibukkan dengan momongan pada awal pernikahan juga bisa jadi tak sempat memikirkan bulan madu. Tapi Anda bisa mencoba babymoon, yakni bulan madu saat sedang hamil. 

David menyarankan untuk tidak terlalu lama menunda bulan madu setelah perkawinan agar rencana itu terealisasi. 

Bulan madu bisa diwujudkan satu atau dua bulan setelah pernikahan. Ketika itu, pasangan bisa mencari destinasi yang tepat atau mencari berbagai diskon tiket penerbangan di berbagai pameran.

“Tidak perlu jauh, yang penting ada sedikit waktu untuk bersantai,” ujar dia.

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Pascabencana, 14 kasus pernikahan dini di kamp pengungsian Pasigala

Komentar