Makassar (ANTARA News) - Jepang menolak 15 ton udang ekspor asal Sulawesi Selatan (Sulsel) karena terdeteksi mengandung antibiotik melebihi ambang toleransi yang ditetapkan badan otoritas Uni Eropa. "Ekspor udang Sulsel ke Jepang ditolak karena terdeteksi mengandung antibiotikmencapai sekitar lima persen dari total ekspor udang yang dilakukan," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Cold Storage Indonesia (APCI) Sulsel, Adriadi di Makassar, Rabu. Dia mengkhawatirkan keberlangsungan agribisnis udang di Sulsel, karena selama ini, Jepang merupakan penerima ekspor udang terbesar dari Indonesia. Menurut Adriadi, dari 7.000 ton total volume ekspor udang Sulsel yang terserap pasar Uni Eropa, sekitar 4.000 ton per tahun, sedangkan sisanya masuk ke pasar Jepang. Untuk mengatasi hal itu, Adriadi meminta kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait melakukan rehabilitasi sarana dan prasarana Laboratorium Pembinaan dan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Makassar guna mendeteksi kandungan antibiotik yang terdapat pada udang Sulsel sebelum diekspor ke negara Uni Eropa. Menurut dia, kandungan antibiotik yang terdapat pada udang Sulsel yang akan diekpor ke Jepang itu, diduga berasal dari benur yang telah terkontaminasi dengan obat-obatan atau zat kimia yang digunakan petambak udang agar hasil udangnya terlindungai dari serangan penyakit. Selain itu, Adriadi juga meminta kepada pengusaha cold storage di Makassar untuk melakukan upaya agar "approval number" (lisensi ekspor tentang persyaratan kualitas udang untuk diekspor ke Eropa) yang belum dipenuhi lima Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Sulsel, tidak dicabut. Berdasarkan surat Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, DKP Martani Huseini yang dikirimkan kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel pada 19 April 2007 menyebutkan, kelima perusahaan itu terancam akan dicabut lisensinya karena dinilai tidak memenuhi standar persyaratan badan otoritas Uni Eropa. Pencabutan lisensi itu berdasarkan usulan Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, D

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2007