Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat pagi bergerak melemah sebesar 13 poin menjadi Rp13.385, dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.372 per dolar AS.

"Pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS berlanjut dengan dominasi faktor global menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 14-15 Maret 2017," kata ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan bahwa pelaku pasar sedang fokus pada data pertambahan tenaga kerja non-pertanian AS yang akan dirilis akhir pekan ini, data itu menjadi titik konfirmasi terakhir sebelum pertemuan FOMC pada pekan depan.

Di tengah kemungkinan kenaikan suku bunga Fed dalam FOMC, lanjut dia, harga minyak mentah dunia yang melanjutkan penurunan turut memberi sentimen negatif bagi mata uang berbasis komoditas.

"Pelemahan harga minyak mentah masih dipicu data persediaan minyak Amerika Serikat yang naik," katanya.

Terpantau harga minyak jenis WTI Crude pada Jumat (10/3) pagi ini berada di level 49,68 dolar AS per barel, dan Brent Crude di posisi 52,55 dolar AS per barel.

Analis Monex Investindo Futures Agus Chandra menambahkan bahwa salah satu fokus utama pelaku pasar uang yakni serangkaian data tenaga kerja, dan upah rata-rata per jam di Amerika Serikat.

"Perekonomian AS diperkirakan menciptakan 200.000 lapangan pekerjaan pada Februari dan tingkat pengangguran diperkirakan turun menjadi 4,7 persen," paparnya.

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2017