"Beauty and the Beast": transformasi kisah klasik masa kini

"Beauty and the Beast": transformasi kisah klasik masa kini

Potongan adegan film "Beauty and the Beast" (2017) garapan sutradara Bill Condon yang antara lain dibintangi oleh Emma Watson, Dan Stevens, dan Luke Evans. (Disney)

Jakarta (ANTARA News) - Berlatar sebuah desa kecil di Prancis, ada rasa yang berbeda dalam "Beauty and the Beast" ketika Emma Watson yang bertransformasi menjadi si cantik Belle membuka pintu.

Kisah Belle sebenarnya dimulai jauh sebelum itu, seorang pangeran Prancis tengah mengadakan pesta di kastilnya dan seorang perempuan tua lusuh datang memberikan hadiah setangkai mawar merah, namun mendapat penolakan keras dari sang pangeran karena penampilannya.

Perempuan tua tersebut kemudian bertransformasi menjadi seorang penyihir cantik dan mengubah sang pangeran menjadi si buruk rupa untuk memberi pelajaran agar tidak melihat orang hanya dari penampilan.

Kutukan sang penyihir tersebut telah ada sejak 1991 ketika Walt Disney Pictures mengangkat dongeng klasik si cantik Belle dan si pangeran buruk rupa dalam film animasi musikal, yang 26 tahun kemudian bertransformasi menjadi Emma Watson dan Dan Stevens.

Pertanyaan besar saat Emma Watson diumumkan memerankan Belle pada Januari 2015 seakan terjawab setelah Emma yang memerankan Belle melangkahkan kaki keluar rumah.

Kecerdasan perempuan yang lama dikenal sebagai Hermione Granger dalam film seri "Harry Potter" itu seakan memenuhi aura Belle.

Terlebih ketika para penduduk desa menggambarkan tidak hanya secara visual namun juga nyanyian bahwa Belle adalah gadis yang berbeda; seorang yang tak pandai bergaul, kutu buku dan haus akan ilmu.

Emma, yang ditunjuk sebagai duta besar oleh PBB pada Juli 2014 dan telah banyak melakukan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan untuk perempuan, dengan mengunjungi Bangladesh dan Zambia misalnya, seolah mengampanyekan hal tersebut di "Beauty and the Beast."


Relevan dengan kondisi sekarang

Belle yang pintar kedapatan mengajari seorang anak perempuan membaca buku yang pada jaman itu dianggap masih sangat tabu, kemudian diusir oleh sebagian warga yang mayoritas laki-laki.

Hal tersebut masih sangat relevan dengan keadaan saat ini di mana Emma berjuang menyuarakan kesetaraan gender, tidak hanya hak untuk mendapat pendidikan tetapi juga kesempatan berpolitik bagi perempuan, yang belakangan sering dia utarakan dalam berbagai kesempatan, terakhir World Economic Forum pada Januari 2015.

Tak hanya isu feminisme, "Beauty and the Beast" nampaknya peka terhadap keberagaman yang sempat menjadi perdebatan di ajang bergengsi Academy Awards, bahkan saat ini menjadi isu hangat di Amerika Serikat.

"Itu (keberagaman) sangat penting. Kami memiliki pasangan antar ras," ujar sang sutradara Bill Condon dalam wawancara dengan Fox News, Kamis (16/3).

Peraih Oscar untuk naskah film adaptasi terbaik dalam "Gods and Monster" itu mem-visualisasikan pasangan maestro Cadenza sang piano dengan istrinya penyanyi opera Madame de Garderobe sang lemari pakaian sebagai pasangan antar ras.

Keberagaman pemain juga terlihat ditransformasikan kepada kepala asisten rumah tangga Lumiere yang berubah menjadi tempat lilin dan pacarnya Plumette yang berubah menjadi kemoceng karena kutukan sang penyihir.

Terkait isu homoseks yang banyak dibicarakan, bahkan menjadi pengganjal penayangan film tersebut di Malaysia, Condon mengatakan, "Nah, orang-orang belum melihat filmnya. Mereka harus melihat dilmnya dan mereka akan mengerti bahwa itu bukan tentang hal itu."

(Baca: Malaysia larang pemutaran "Beauty and the Beast" karena adegan homoseksual)

Condon menggambarkan sosok Le Fou, teman karakter antagonis Gaston, sebagai sosok yang memuja dan ingin seperti Gaston, namun juga memiliki perasaan kepada Gaston.

Dalam hal yang tidak berlebih seperti penggambaran Le Fou terhadap Gaston (Luke Evans), sosok flamboyan seperti karakter yang dimainkan Josh Gad itu bisa dikatakan dekat dengan perfilman Indonesia, misalnya Emon di "Catatan si Boy" (1987).

Sementara itu, penggambaran sosok Beast dan cara sutradara "The Twilight Saga: Breaking Dawn" itu menghidupkan perabotan rumah tangga dalam kastil patut diacungi jempol.

Transformasi sinematik terasa halus, sisi gelap dan misterius juga ditampilkan dengan apik, meskipun live-action terasa sedikit hambar dan kurang mendalam saat scene perabotan hadir tanpa sentuhan manusia.

Usaha Condon untuk menyajikan karya musikal juga perlu diapresiasi dengan membuat seluruh karakter bernyanyi. Tidak hanya itu, lirik dalam lagu juga memperkuat karakter para tokoh. Demikian pula para aktris dan aktor yang berakting, bernyanyi sekaligus menghapal koreografi yang tidak diragukan lagi kesulitannya.

Secara keseluruhan, penampilan Emma Watson tidak dipungkiri menjadi magnet luar biasa film reinkarnasi live-action "Beauty and the Beast" itu. Terlepas dari aktingnya yang biasa (tidak hebat dari segi tantangan akting), dan entah mengapa aura Hogwarts sangat terasa, film tersebut menebus penantian para penggemar princess selama 26 tahun.

Kisah klasik yang dikemas apik dengan musikal dramatik dan transformasi sinematik yang menarik yang masih bertali dengan kehidupan masa kini.

Oleh Arindra Meodia
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar