Sengkarut PT Freeport mulai berdampak ke bisnis hotel di Timika

Sengkarut PT Freeport mulai berdampak ke bisnis hotel di Timika

Petugas dari satuan Brimobda DIY Satgas Amole III 2015 BKO PT Freeport Indonesia berjaga di area tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Timika, Papua, Minggu (20/9/2016). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Timika, Papua (ANTARA News) - Para pelaku usaha jasa perhotelan di Kota Timika mulai merasakan dampak dari krisis yang menimpa PT Freeport Indonesia di mana tingkat hunian turun drastis sampai 30 persen, kata Manajer Hotel Noken Timika Wisnu Aji.

"Tingkat hunian di Hotel Noken Timika biasanya 60 sampai 70 persen. Tapi mulai pertengahan Februari, menurun jauh sampai 30 persen. Gonjang-ganjing yang terjadi di PT Freeport sangat mempengaruhi usaha perhotelan," kata Wisnu di sini, hari ini, sembari menekankan kekhawatiran bangkrutnya usaha hotel di daerah ini.

Wisnu mengatakan tamu yang menginap di Hotel Noken Timika selama ini sebagian besar karyawan PT Freeport dan perusahaan-perusahaan subkontraktornya.

Baca juga: (Luhut Pandjaitan malas berandai-andai tentang kasus PT Freeport Indonesia)

Baca juga: (Pengamat: Pemerintah-PT Freeport Indonesia jangan saling egois)

Untuk menyiasati hal ini, pengelola hotel yang beralamat di Jalan Cenderawasih Timika itu memberikan potongan harga khusus kepada karyawan yang bekerja pada PT Freeport dan perusahaan-perusahaan subkontraktornya.

"Kondisi seperti ini bukan hanya kami yang merasakan tapi mungkin semua hotel di Timika. Kalau periode Desember-awal Januari biasanya tamu hotel berkurang karena mereka pada pulang liburan ke daerah asal. Nanti agak ramai lagi mulai pertengahan Januari. Tapi begitu masuk Februari terjadi gejolak di Freeport di mana imbasnya sangat berat buat kami," kata Wisnu.

Hotel Noken Timika memiliki 58 kamar, terdiri atas dua kamar the lux room, delapan kamar superior room dan sisanya kamar standar. Tarif menginap di Hotel Noken Timika bervariasi mulai dari Rp400 ribu per malam.

Baca juga: (Bank Papua hentikan pelayanan kredit karyawan kontraktor PT Freeport Indonesia)

Baca juga: (Perbankan khawatirkan efek domino krisis PT Freeport Indonesia)

Wisnu menyoroti kurangnya peran serta Pemkab Mimika dan organisasi-organisasi seperti PHRI dan ASITA yang masih sangat lemah mendorong pertumbuhan bisnis hotel di sini.

"Selama delapan tahun kami membuka usaha perhotelan di Timika, belum ada pernah ada kegiatan pembinaan dari pemerintah daerah. Terkesan selama ini kami jalan sendiri-sendiri alias cari hidup masing-masing. Kalau mau jujur, Pemkab Mimika hanya berkepentingan dengan perhotelan saat menarik pajak saja, di luar itu sama sekali tidak ada," kata Wisnu.

Kalangan perhotelan di Timika mengharapkan Pemkab setempat membuka seluas-luasnya akses dan informasi tentang potensi pariwisata di Kabupaten Mimika mengingat ada banyak potensi alam di wilayah itu yang bisa dijual ke luar untuk menarik arus kunjungan wisatawan.

Baca juga: (Pemerintah siap jika digugat PT Freeport Indonesia)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar