Pemerintah segera bangun empat PLTS di NTT

Pemerintah segera bangun empat PLTS di NTT

Kendala Teknis PLTS Daruba Petugas memeriksa panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Daruba, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Rabu (6/4/2016). PLTS tersebut merupakan panel terbesar di Maluku Utara, memanfaatkan energi matahari menjadi energi listrik melalui photovoltaic module (green energy), berkapasitas 600 kWp, dibangun pada tahun 2012 namun kini hanya 2/3 dari sistem yang berfungsi dan dioperasikan secara manual untuk dikonversikan dengan PLTD serta hanya dijaga oleh satu orang teknisi. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Jadi sumber pendanaannya dari APBN untuk membantu mempercepat pemenuhan kebutuhan listrik terutama desa-desa yang belum terlistriki di NTT."
Kupang (ANTARA News) - Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Timur, Boni Marisin mengatakan pemerintah pusat segera membangun empat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terpusat di Nusa Tenggara Timur.

"Lokasi pembangunan PLTS terpusat tersebut ada tiga di Kabupaten Alor dan satu di Kabupaten Manggarai Barat," katanya saat dihubungi Antara di Kupang, Rabu.

Boni mengatakan, pihaknya telah mendampingi tim dari Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk melakukan survey lapangan terkait pembangunan PLTS tersebut.

"Untuk kapasitas PLTS yang dibangun itu bisa bervariasi ada yang 10 kWh ada 15 kWh tergantung dari hasil survey apakah itu feasibility study dan detailed engineering-nya," katanya.

Dia mengatakan, pembangunan EBT dengan memanfaatkan sumber tenaga Matahari tersebut merupakan program Kementerian ESDM yang dieksekusi melalui Direktorat Jenderal EBT.

"Jadi sumber pendanaannya dari APBN untuk membantu mempercepat pemenuhan kebutuhan listrik terutama desa-desa yang belum terlistriki di NTT," katanya.

Dia mengakui, pemerintah pusat terus mendorong pengembangan EBT dari tenaga surya di daerah setempat karena menurutnya daerah NTT sangat potensial dengan waktu musim kemarau yang berlangsung lama setiap tahun.

"Pemerintah melihat bahwa kondisi cuaca panas kita sangat tinggi dan lama sehingga cocok dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik," katanya.

Dia mengatakan, pengembangan EBT merupakan bagian dari program "Indonesia Terang" yang digagas Kementerian ESDM dengan target bisa menyumbang 1.000 megawatt dari total secara nasional sebanyak 35.000 megawatt sampai tahun 2019.

"Program ini mengutamakan pembangunan listrik hingga ke desa-desa tanpa menggunakan energi fosil melainkan berbasis EBT," katanya.

Menurut dia, pembangunan empat PLTS terpusat tersebut nantinya akan bisa memberikan pasokan listrik secara memadai ke desa-desa yang ada di sekitarnya.

Dengan potensi yang ada, katanya, maka Pemerintah Daerah pun terus berupaya mendorong berbagai pihak terutama swasta untuk berinvestasi mengembangkan EBT melalui berbagai upaya promosi.

"NTT punya banyak potensi baik potensi arus laut, air, angin, dan panas yang bisa diinvestasikan," katanya.

Dia menambahkan, pengembangan EBT yang sudah dilakukan di berbagai daerah seperti mikrohidro di Pulau Sumba, gheotermal di Ulumbu dan Mataloko di Pulau Flores.

Menurut dia, pengembangan EBT yang memadai akan membantu pasokan listrik secara memadai hingga ke berbagai daerah pelosok sehingga dengan begitu akan meningkatkan rasio elektrifikasi.

"Rasio elektrifikasi kita juga masih rendah dengan kisaran sekitar 60 persen sehingga kita berharap angka ini bisa naik dengan adanya pengembangan EBT yang mulai marak dilakukan," katanya.

Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Pentingnya mereduksi energi fosil untuk capai target 31% EBT

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar