Umat Hindu rayakan Hari Suci Kuningan

Umat Hindu rayakan Hari Suci Kuningan

Para perempuan menjunjung sesaji saat Hari Raya Galungan di Desa Adat Penglipuran, Bangli, Bali, Rabu (5/4/2017). Hari Raya Galungan yang dirayakan umat Hindu setiap 210 hari sekali merupakan perayaan kemenangan Dharma atau kebenaran melawan Adharma atau kejahatan yang dirayakan dengan persembahyangan bersama.(ANTARA /Fikri Yusuf)

Denpasar (ANTARA News) - Umat Hindu di Bali pada Sabtu memperingati Hari Suci Kuningan, rangkaian Hari Raya Galungan untuk merayakan Kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).

Kuningan dirayakan sepuluh hari setelah Galungan dengan menghaturkan sesaji di Pura maupun merajan, tempat suci milik masing-masing keluarga.

Mengenakan busana adat Bali, sebagian umat Hindu di kota Denpasar dan sekitarnya juga melakukan persembahyangan di Pura Jagatnatha atau Pura Sakenan di Kelurahan Serangan, 12 km arah selatan kota Denpasar.

Kuningan berlangsung bertepatan dengan ritual besar (piodalan) di Pura Sakenan. Persembahyangan berlangsung sejak pagi hingga sore hari.

Panitia dan bendesa adat Serangan mengatur atrean warga yang hendak mengikuti persembahyangan di Pura Sakenan, salah satu Pura "Sad Kahyangan" (pura besar) dengan Persada, bangunan bertingkat-tingkat seperti limas.

Akademisi Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Prof Dr Drs Made Surada MSi menjelaskan Kuningan dimaknai sebagai momentum instrospeksi diri untuk mencapai kedamaian dan kesejahteraan.

Perayaan Kuningan merupakan pengejawantahan ajaran cinta kasih dari kemenangan dharma dalam kegiatan pelayanan dan pengabdian.

"Hal ini dapat dikupas secara filosofis beberapa sarana prasarana upakara dan upacara: tamiang, sulanggi, tebog, wayang-wayangan, endongan, kolem, ter, dan nasi kuning, ujar Made Surada.

Pewarta: IK Sutika
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar