Pohon langka berumur 170 tahun ditebang

Pohon langka berumur 170 tahun ditebang

Ilustrasi (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Sydney (ANTARA News) - Pecinta alam Australia telah menyampaikan kemarahan setelah pohon langka yang berumur 170 tahun ditebang di Tasmania.

Pohon Pinus Bunya, pohon asli Australia, ditebang karena buah pohon pinus tersebut --yang berbentuk kerucut bisa memiliki berat sampai 10 kilogram, menimbulkan bahaya buat orang dan kendaraan.

Pohon sangat sulit tumbuh di Tasmania akibat iklim dingin di negara bagian Australia tersebut.

Kedua pohon itu diduga ditanam pada 1840-an oleh Kapten Chales Swanston, presiden pertama Perhimpunan Hortikultura Kota Kecil Hobart.

Satu dari kedua pohon tersebut tumbuh di lahan Warwick Oakman, wakil ketua National Trust Tasmania, sedang satu pohon lagi berada di tanah milik Tasmanian Catholic Education Office (TCEO), kata Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin siang.


Baca juga: (Kebun Raya LIPI tanam 300 pohon langka)

Baca juga: (Yogyakarta tanam pohon langka sebagai identitas wilayah)


Oakman pada Selasa lalu menerima surat dari TCEO yang menyarankan bahwa pohonnya akan ditebang karena keprihatinan mengenai keselamatan dan pada Kamis pohon itu sudah tidak ada.

"Itu sangat disayangkan, sebab satu pelajaran hilang dari sejarah botani di Tasmania," kata Oakman kepada Australian Broadcasting Corporation pada Senin.

David Bedford, mantan direktur Royal Tasmanian Botanical Garden, mengatakan pohon itu memiliki kepentingan botani, hortikultura dan budaya.

"Keberhasilan botani dari pohon ini di Hobart memiliki kepentingan botani yang sangat besar untuk memperlihatkan bahwa jajaran spesies iklim jauh lebih besar dibandingkan dengan sumbangan alam saat ini," kata Bedford.

"Kelangsungan hidup pohon itu juga merupakan prestasi hortikultura yang sangat luar biasa," katanya.

TCEO mengatakan pohon tersebut belum lama ini telah menjatuhkan sejumlah kerucut pinus dengan berat, masing-masing, enam kilogram, sehingga menimbulkan "kerusakan besar" pada mobil yang diparkir.

Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar