Jakarta (ANTARA News) - Hiruk-pikuk pemilihan gubernur DKI Jakarta akhirnya mencapai klimaks dengan berlangsungnya pencoblosan atau pemungutan suara dalam suasana aman dan lancar pada Rabu.

Selain berlangsung aman dan lancar, pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta kali ini tampaknya juga menghasilkan gambaran bahwa ibu kota akan dipimpin oleh gubernur dan wakil gubernur yang baru. Setidaknya itu yang tergambar dari hasil hitung cepat (quick count) beberapa lembaga survei yang menunjukkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno unggul dibandingkan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

Bahkan Anies-Sandi mengungguli Basuki-Djarot di seluruh hitung cepat. Pada Lingkaran Survei Indonesia pada pukul 18.00 WIB dengan data masuk 99,71 persen, Anies-Sandi memperoleh suara 55,41 persen, sedangkan pasangan Basuki-Djarot mendapatkan 44,59 persen suara.

Pada hasil hitung cepat Indikator dengan data masuk 100 persen, pasangan Anies-Sandi mendapat suara 57,89 persen, sedangkan pasangan Basuki-Djarot memperoleh 42,11 persen suara. Sedangkan PolMark Indonesia dengan data masuk 99,75 persen, Anies-Sandi memperoleh 57,53 persen suara dan pasangan Basuki-Djarot mendapat suara 42,47 persen.

Sedangkan, hitung cepat yang dilakukan Indo Barometer yang disiarkan Antaranews dengan data masuk 99,67 persen menempatkan pasangan Anies-Sandi dengan perolehan suara 58,5 persen, Basuki-Djarot mendapat suara 41,5 persen. Voxpol Center dengan data masuk 100 persen, Anies-Sandi mengungguli pasangan Basuki-Djarot dengan perbandingan 59,4 persen dan 40,6 persen.

Begitu pula dengan hasil hitung cepat yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dengan data masuk 99,91 persen, Anies-Sandi mendapatkan suara 58,1 persen dan Basuki-Djarot memperoleh 41,9 persen suara.

Perkiraan Anies-Sandi akan memenangkan rivalitas pilkada DKI Jakarta sebenarnya sudah tersiar ke media massa nasional ketika sejumlah lembaga survei menyiarkan hasil surveinya beberapa hari sebelum hari pemungutan suara. namun rentang angka perkiraan perolehan suaranya relatif hanya lima sampai 10 persen.

Angka-angka survei itu juga masih menyisakan kemungkinan berbalik karena masih berkisar 4,4 hingga 15 persen responden belum menyatakan pendapat atau merahasiakan pilihannya.

Yang mengejutkan, angka-angka responden yang belum menyatakan pilihan atau merahasiakan pilihannya menjatuhkan pilihan kepada Anies-Sandi.

Pada pilkada DKI Jakarta putaran pertama pada 15 Februari 2017, Ahok-Djarot adalah jawara. Berdasarkan rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi oleh KPU DKI pada 4 Maret 2017, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylvina Murni memperoleh 937.955 suara atau 17.07 persen. Ahok-Djarot memperoleh 2.364.577 suara atau 42,99 persen dan Anies-Sandiaga memperoleh suara 2.197.333 atau 39,95 persen.

Hasil hitung cepat beberapa lembaga survei menunjukkan angka Ahok-Djarok rata-rata pada angka 41-42 persen, sedangkan Anies-Sandi melejit hingga di atas 55 persen. Beberapa analis memperkirakan melejitnya perolehan suara Anies-Sandi di putaran kedua ini berasal dari suara Agus-Silvi.

Selain hasil hitung cepat yang tersiar setelah pencoblosan pukul 13.00 WIB, indikasi bahwa petahana akan "tumbang" adalah adanya "exit poll" yang beredar di media sosial seperti WhatsApp sekitar pukul 09.00 WIB.

Isinya berupa hasil "exit poll" bahwa Anies-Sandi menang dalam pilkada ini. Media berhati-hati menyiarkannya karena dapat mempengaruhi pemilih sehingga banyak yang menyiarkannya setelah TPS ditutup tetapi sebelum dilakukan penghitungan suara.

Namun peredarannya di media sosial tetap tidak terkendali. Pesannya berantai dan terus tersebar. Meski hasil "exit poll" itu sering dipertanyakan akurasinya, namun cukup menjadi gambaran di tengah persaingan ketat dan sengit dalam "head to head" untuk menjadi pemenang.

Di tengah rasa penasaran dan rasa keingintahuan publik mengenai hasil pilkada DKI, hasil "exit poll" cukup menjadi jawaban, apalagi saat itu belum waktunya bagi lembaga survei mengumumkan hasil hitung cepat. Namun beberapa lembaga survei kemudian mengumumkan angka demi angka hasil hitung cepatnya yang cenderung sama, yaitu Anies-Sandi memenangkan pertarungan.

Tak seberapa lama setelah sejumlah media "online" menyiarkan "exit poll", hasil hitung cepat oleh beberapa lembaga survei diumumkan secara "online" maupun "live" di televisi.

Meski hasil "exit poll" dan hitung cepat menggambarkan angka-angka yang secara jelas mengenai siapa pememang pilkada DKI, namun semua itu masih harus mengikuti hasil yang diumumkan KPU DKI Jakarta sebagai lembaga penyelenggara pemilihan umum.

Artinya, angka-angka yang diumumkan itu belumlah angka resmi atau bersifat sementara.

Dari sisi partisipasi pemilih, Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Saefullah mengapresiasi partisipasi masyarakat dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua karena berdasarkan pemantauannya di beberapa Tempat Pemungutan Suara, masyarakat antusias menggunakan hak politiknya.

Dia memantau TPS di Apartemen Kalibata dan Perumahan Sunrise Garden, Kedoya. Presentase partisipasi masyarakat sekitar 60 persen bahkan ada yang mencapai 70 persen.

"Itu hasil yang bagus," kata Saefullah.

Dia mengatakan, berdasarkan pantauannya di sekitar lokasi TPS, tempat makan dan lokasi cuci kendaraan buka secara normal.


Warga nyaman

Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta nyaman dengan momen pilkada dan setelah melakukan pemungutan suara, mengajak keluarga makan bersama.

"Berarti mereka nyaman, selesai nyoblos, makan bersama keluarga," ujarnya.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta memastikan terdapat 7.218.280 pemilih pilkada DKI 2017 putaran kedua dengan jumlah TPS 13.032. Pemilih dan TPS terdapat di Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Utara serta Kepulauan Seribu.

Pemungutan suara berakhir pukul 13.00 WIB kemudian dilakukan penghitungan suara oleh petugas TPS. Penghitungan suara berlangsung secara terbuka disaksikan para saksi dari kedua pasangan calon dan masyarakat.


Pernyataan

Tak berapa lama setelah "exit poll" disampaikan ke publik dan hasil hitung cepat mulai menapaki prosentase yangs emakin besar dengan perolehan Anies-Sandi semakin kokoh, partai pengusung Anies-Sandi, yaitu PKS menyampaikan pernyataan sikap bahwa jagonya menang pilkada DKI Jakarta. Sebagian orang menganggap "declare" itu terlalu prematur karena hitung cepat baru dimulai, namun angka kemenangan Anies-Sandi tampak semakin besar.

Dengan perolehan angka hitung cepat yang semakin kokoh, publik tampaknya semakin yakin bahwa Anies-Sandi akan benar-benar meraih kemenangan. Apalagi Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto kemudian menyatakan bahwa jagonya menang.

Namun pernyataan kemenangan itu masihlah klaim sepihak. Sebuah klaim kemenangan baru sebatas pernyataan politik semata jika pihak lawan tidak bersikap atau menanggapi klaim itu. Di luar dugaan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat mengucapkan selamat kepada Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Ucapan tersebut disampaikan secara langsung oleh pasangan Ahok-Djarot saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Rabu, terkait pelaksanaan pilkada DKI Jakarta putaran kedua.

"Kita sudah lihat hasil hitung cepat atau quick count. Hasilnya, pasangan Anies-Sandi unggul. Selamat kepada Pak Anies dan Pak Sandi," kata Djarot.

Meskipun demikian, dia menyatakan pihaknya akan tetap menunggu hingga hasil penghitungan resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta diterbitkan.

"Tentunya, kami pasti akan menunggu sampai hasil resmi penghitungan suara atau real count yang dilakukan oleh KPU DKI Jakarta," ujar Djarot.

Ahok juga menyampaikan ucapan selamat kepada Anies-Sandi karena unggul dalam hitung cepat pilkada DKI Jakarta 2017.

"Selamat, sekali lagi, kepada Pak Anies dan Pak Sandi. Kami terbuka untuk Pak Anies dan Pak Sandi. Kita semua sama. Kota Jakarta adalah rumah kita bersama," ungkap Ahok.

Dalam pernyataannya, Ahok-Djarot yang didukung PDIP, Golkar, Hanura dan Nasdem tidak secara tegas mengaku kalah dalam pilkada. Namun hanya menyampaikan selamat kepada Anies-Sandi atas keunggulan perolehan suara berdasarkan hasil hitung cepat.

Kekalahan petahana versi hitung cepat kali ini juga menambah catatan dalam lembar sejarah pilkada di Indonesia maupun di DKI Jakarta yang dimulai sejak 2005. Khusus di DKI Jakarta, pilkada pertama diselenggarakan pada tahun 2007.

Ketika itu, pilkada juga diikuti dua pasangan calon, yaitu Adang Daradjatun dan Dani Anwar yang didukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Prijanto. Pasangan itu didukung banyaksm sekali partai politik..

Fauzi Bowo yang sebelumnya wagub DKI Jakarta maju menjadi calon gubernur didukuing PPP, PD, PDIP, Partai Golkar, PDS, PBR, PBB, PPNUI, PPDK, PKPB, PPDI, PBSD, PPIB, Partai Merdeka, PKB, PAN, PPD, Partai Patriot Pancasila, PKPI dan Partai Pelopor.

Rivalitas pilkada waktu itu cukup sengit, namun tidak seheboh dan segawat pilkada kali ini. Sengitnya pertarungan tergambar dari hasil akhir yang diumumkan KPU DKI Jakarta, Fauzi Bowo-Prijanto meraih 2.109.511 suara (57,87 persen), sedangkan Adang Daradjatun-Dani Anwar 1.535.555 suara (42,13 persen)

Kemudian pilkada DKI Jakarta pada 11 Juli 2012 diikuti enam pasnagan calon, yaitu Fauzi Bowo atau Foke sebagai petahana yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli, Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Puranama, Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini, Faisal Basri-Biem Triani Benjamin serta Alex Noerdin-Nono Sampono.

Pada pilkada putaran kedua 20 September 2012, petahana Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli berhadapan dengan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Waktu itu petahana tumbang.

Dari tiga kali pilkada yang diselenggarakan di DKI Jakarta sejak 2007, belum pernah ada petahana yang mampu memenangkan rivalitas dua kali untuk memimpin DKI dua periode. Tampaknya pemilih pada pilkada di DKI sangat cair. Begitu tidak puas terhadap kinerja petahana, pemilih akan meninggalkannya di periode kedua!

Begitu pula yang terjadi pada putaran kedua pilkada kali ini. Sebagian besar publik--yang tergambar dari hasil hitung cepat beberapa lembaga survei--tidak puas terhadap kinerja Ahok-Djarot, mereka pun memilih Anies-Sandi.

Beruntung. Yang kalah (masih berdasarkan hitung cepat beberapa lembaga survei) tidak emosional dan tampaknya "legowo" (ikhlas) dan yang menang menunjukkan tidak "jumawa" (menantang-mentang dan sombong). Setidaknya hal itu tecermin dari pernyataan kedua pasangan calon yang baru saja saling berhadap-hadapan di pilkada yang panas dan sengit.


Turunkan tensi

Yang jelas pernyataan itu mengakhiri spekulasi bahwa pertarungan politik di DKI Jakarta masih akan panas dan berlanjut. Pernyataan Ahok-Djarot menurunkan tensi politik di Jakarta yang sudah panas sejak awal tahun 2016.

Awal tahun 2016, tensi politik di Jakarta mulai "menggeliat" dengan adanya penggalangan dukungan dari publik yang dilakukan "Teman Ahok" agar Ahok melenggang melalui jalur perseorangan atau independen. Saat itu manuver, pernyataan, penggalangan dukungan dan klaim dukungan terus mewarnai halaman-halaman media massa.

Sampai akhirnya Ahok menjatuhkan pilihan untuk menggunakan partai sebagai kendaraan politiknya kemudian tidak menggunakan jalur perseorangan atau independen seperti telah digagas "Teman Ahok". Berita-berita pilkada DKI masih terus ramai.

Bahkan untuk menentukan pilihan calon wakil gubernur juga begitu ramai. Pokoknya pilkada DKI selalu mewarnai berita-berita media massa. Apalagi setelah adanya kasus di Kepulauan Seribu.

Dalam suasana yang berbeda tetapi berkaitan, kasus Kepulauan Seribu memicu terjadinya gelombang protes dan aksi massa dalam beberapa kali, yaitu Oktober, November dan Desember 2016. Bahkan dalam jumlah yang diklaim mencapai jutaan orang.

Itu semua mewarnai sejarah perjalanan pilkada di Jakarta, bahkan juga di Indonesia. Catatan itu antara lain menunjukkan bahwa selama ini belum pernah ada pilkada seheboh dan segawat pilkada DKI Jakarta.

Dikatakan heboh karena beritanya sampai ke semua daerah, bahkan luar negeri. Dikatakan gawat karena "bergesekan" dengan persoalan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang amat sensitif dan harus dihindari karena bisa mengganggu NKRI.

Karena itu, untuk menjaga keamanan dan mengantisipasi semakin gawatnya tingkat keamanan nasional, ribuan tentara dan polisi dikerahkan untuk melakukan penjagaan keamanan di ibu kota negara Indonesia. Bahkan tak ssedikit polisi dan tentara yang didatangkan dari luar daerah.

Dengan kehebohan dan dan tingkat kegawatan yang demikian tinggi akibat meningkatnya tensi politik di pilkada DKI, tak sedikit orang yang menganggap pilkada DKI tak ubahnya pemilihan presiden. Pilkada ini adalah titik tumpu sehingga seperti pemilihan presiden.

Dari segi lokasinya berada di ibu kota negara, isunya yang diangkat sangat sensitif serta menggambarkan kepentingan elit-elit atau tokoh-tokoh politiknya. Yang tak kalah pentingnya adalah adanya persilangan kepentingan terkait pengelolaan sumber daya ibu kota, seperti isu reklamasi.

Semua pertarungan itu sudah berakhir di bilik suara dan hasilnya tergambar dalam tabel-tabel perolehan suara hitung cepat beberapa lembaga survei. Kedua pasangan calon sudah menyatakan sikapnya yang mengindikasikan bahwa tensi politik DKI dan nasional akan reda.

Apalagi ada agenda pertemuan antara Anies dan Ahok. Semua itu diyakini sebagai upaya menyatukan dan menghilangkan sekat atau serpihan perasaan yang sempat terbelah antarwarga DKI selama berbulan-bulan akibat pilkada. Dalam pernyataannya, kedua pasangan calon itu bertekat sesegera mungkin mengakhiri sekat, perbedaan dan serpihan-sepihan perasaan yang terbelah itu.

Tensi politik nasional juga diperkirakan akan mereda dengan selesainya pilkada DKI Jakarta. Sekadar membuka kembali catatan bahwa untuk putaran pertama saja--yang diselenggarakan bersamaan dengan pemilihan gubernur/wakil gubernur di tujuh provinsi, 18 kota dan 76 kabupaten pada 15 Februari 2017--pemerintah pusat harus menetapkannya sebagai hari libur nasional.

Di putaran kedua ini, pemerintah menetapkan libur hanya untuk DKI Jakarta. Walaupun ada saja warga yang "nyinyir" karena tidak lagi libur pada pilkada DKI putaran kedua dengan kalimat "pilkada DKI Jakarta hebohnya seantero negeri, tetapi liburnya hanya Jakarta".

Kini pilkada paling "menyeramkan" telah berlalu. Pilkada rasa pilpres sudah berakhir. Semua pihak menunggu tahap penghitungan suara oleh KPU DKI Jakarta hingga keputusan final nantinya.

(T.S023/A011)

Oleh Sri Muryono
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2017