Peretas Rusia dituduh tanam berita palsu di balik krisis Teluk

Peretas Rusia dituduh tanam berita palsu di balik krisis Teluk

- (Pixabay/HypnoArt)

Washington (ANTARA News) - Pejabat intelijen Amerika Serikat (AS) meyakini para peretas Rusia menanamkan sebuah berita palsu yang menyebabkan Arab Saudi dan beberapa sekutunya memutuskan hubungan dengan Qatar, yang memicu krisis diplomatik di kawasan Teluk menurut laporan CNN pada Selasa (6/6).

Para pakar FBI yang mengunjungi Qatar pada akhir Mei untuk menganalisis dugaan pelanggaran siber yang membuat para peretas tersebut menanamkan berita palsu itu di kantor berita negara Qatar menurut CNN.

Arab Saudi kemudian mengutip berita palsu itu sebagai alasan untuk memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Qatar menurut laporan tersebut.

Pemerintah Qatar mengatakan bahwa laporan berita pada 23 Mei menghubungkan pernyataan palsu kepada penguasa emirat yang terlihat bersahabat dengan Iran dan Israel, serta mempertanyakan apakah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mampu mempertahankan jabatannya menurut CNN.

Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed Bin Abdulrahman al Thani mengatakan kepada CNN bahwa FBI sudah mengonfirmasi peretasan dan penanaman berita palsu tersebut.

"Apa pun yang dilontarkan sebagai sebuah tuduhan semuanya didasarkan pada informasi yang keliru dan kami rasa bahwa keseluruhan krisis didasarkan pada kesalahan informasi," katanya kepada CNN.

"Itu dimulai berdasarkan berita palsu, ditanamkan ke dalam kantor berita nasional kami, yang diretas dan itu dibuktikan oleh FBI," tambah dia.

CNN mengutip pejabat komunikasi pemerintah Qatar menyatakan bahwa dia sedang bekerja dengan FBI dan Badan Pidana Nasional Inggris dalam penyelidikan peretasan yang masih berlangsung.

Bila temuan itu akurat, tuduhan tersebut akan mengindikasikan usaha Rusia untuk melemahkan kebijakan luar negeri Amerika Serikat, berdasarkan kekhawatiran intelijen Amerika Serikat bahwa para peretas Rusia berusaha memengaruhi pemilihan presiden Amerika Serikat tahun lalu yang dimenangi oleh Trump. Namun, Kremlin membantah ikut campur dalam pemilihan presiden itu.

Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain mengumumkan pada Senin bahwa mereka memutuskan hubungan diplomatik dan menutup hubungan udara, darat dan laut dengan Qatar.

Mereka menuduh negara kecil Teluk, Qatar, membantu kelompok-kelompok ekstremis dan menyebut Qatar mendukung musuh bebuyutan Arab Saudi, Iran.  Qatar membantah keras tuduhan-tuduhan itu, demikian menurut kantor berita AFP. (hs) 

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar