Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah mengupayakan peningkatan ekspor ke Nigeria untuk mempererat kerja sama ekonomi bilateral, salah satunya dengan menawarkan produk strategis dari PT Dirgantara Indonesia maupun PT PAL.

"Jadi kita coba untuk diversify tidak hanya fokus kepada ekspor barang, tetapi juga hal-hal lain yang saya lihat prospeknya cukup bagus," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ditemui di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta pada Kamis.

Menurut Menlu, Garuda Maintenance Facility, PT INKA, dan BPOM juga siap melakukan kerja sama baik dalam bidang perawatan pesawat maupun penyediaan gerbong kereta api dan industri farmasi.

Pemerintah Indonesia, jelas Retno, membuka jalan bagi pengembangan investasi Indonesia di luar negeri, seperti Nigeria, dengan berbagi pengalaman dari perusahaan yang sudah lebih dulu investasi di negara tersebut.

"Jadi masing-masing produk kita lihat apakah ada hambatan di masing-masing dan dari hambatan-hambatan ini kita bawakan ke dalam pertemuan saya dengan Menteri Luar Negeri Nigeria dan acting Presiden serta memohon perhatian mereka," ujar Retno.

Untuk total perdagangan Indonesia dan Nigeria pada 2016 tercatat sebesar 1,5 miliar dolar AS. Nigeria memiliki jumlah penduduk sebanyak 180 juta orang menjadikannya mitra kerja sama ekonomi yang sangat potensial bagi Indonesia di Benua Afrika.

Menlu telah melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Presiden Nigeria Yemi Osinbajo yang juga bertindak sebagai Plt Presiden Nigeria.

Dalam kunjungan itu juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman kerja sama perawatan pesawat terbang antara Garuda Maintenance Facility (GMF) dan Max Air Ltd Nigeria senilai 3,4 juta dolar AS.

Dalam MoU tersebut GMF akan melakukan berbagai perawatan pesawat Boeing 747-400 milik Max Air, termasuk pemberian bantuan teknis untuk operasional perawatan (onsite support operation) di Nigeria.

Kendati sejumlah produk Indonesia sudah sangat dikenal di Nigeria, seperti mie instan, ban radial, produk farmasi, sabun ditergen dan produk minuman dan makanan lainnya, namun masih terdapat ruang yang sangat besar untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi.

Retno juga menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Nigeria yang dihadiri oleh sekitar 140 pengusaha Nigeria antara lain dari sektor farmasi, transportasi, makanan dan minuman, serta manufaktur.

Sejumlah sektor usaha yang hadir dari Indonesia dalam forum tersebut antara lain perwakilan KADIN RI, Garuda Maintenance Facility, PT INKA, Indonesia Eximbank, PT Sasa Inti serta perwakilan BPOM RI.

(T.B019/H005)

Pewarta: Bayu Prasetyo
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2017