A. Muin Pusadan Meninggal DUnia di Cina

Palu (ANTARA News) - Drs H. Abdul Muin Pusadan (61), mantan Bupati Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Modern Guang Zhou, Cina, Minggu petang. Sebelumnya, ia sempat mendapatkan perawatan intensif selama lebih dua pekan di rumah sakit tersebut karena menderita menyakit kanker paru-paru yang sudah lama diidapnya. "Tapi, selama menjalani perawatan di Cina kondisinya dalam posisi stabil, namun pagi tadi istrinya yang menemani berobat di sana mengkhabarkan terjadi perubahan dadakan sebelum menghebuskan nafas terakhir dengan tenang," kata Ny. Hafsah Rauf, ipar Abdul Muin Pusadan, ketika ditemui di rumah duka di Jalan Teluk Tomini Palu, Minggu malam. Rasyid Pusadan SE, adik almarhum yang juga ikut menemani berobat di Cina saat ini tengah mengurus kepulangan jenazah ke Tanah Air dengan meminta bantuan Konsulat Jenderal RI di Guang Zhou. "Kalau tidak ada hambatan, Insyah Allah jenazah sudah bisa tiba di Palu pada hari Selasa (22/5) untuk kemudian dikebumikan," kata Drs Nurfathan, mengutip keterangan Rasyid Pusadan. Semasa hidupnya, Muin Pusadan dikenal sebagai dosen yang sangat supel dan mudah bergaul. Ia sempat belasan tahun mengajar di Fisipol Universitas Tadulako (Untad) Palu, hingga kemudian di masa Rektor Prof Dr Ahmad Mattulada dipercayakan sebagai Pembantu Rektor III Untad. Ia adalah mantan tokoh mahasiswa yang sebelum menjabat Bupati Poso (1999-2004) aktif berkecimpung di dunia politik hingga menjabat salah seorang Ketua DPD Partai Golkar Sulteng dan menghantarkan dirinya sebagai Wakil Ketua DPRD Sulteng. Ia meninggalkan seorang istri, Dra Hj. Ramlah Rauf, serta dua orang putra dan seorang putri. Susilo Bambang Yudhoyono ketika menjabat Menko Polkam dan M. Jusuf Kalla saat menjabat Menko Kesra di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri sering berkomunikasi langsung dengan Muin Pusadan untuk menanyakan perkembangan situasi Poso serta penanganan ratusan ribu pengungsi korban kerusuhan. (*)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2007

Komentar