Jakarta (ANTARA News) - Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof Hamdi Muluk mengatakan kondisi sosial masyarakat di Indonesia yang relatif adem selama Ramadhan harus dipertahankan hingga bulan suci ini berakhir, bahkan kalau bisa ditingkatkan.

Menurut Hamdi situasi adem ini tidak lepas dari sikap elit politik yang bisa menahan diri sehingga tidak terjadi percikan-percikan intoleransi yang sebelumnya hampir tiap hari terjadi baik itu berupa hasutan, makian, dan ujaran kebencian.

"Masyarakat kita tergolong masyarakat patrimonial yang tergantung pada patronnya. Semakin banyak tokoh masyarakat yang mengirim pesan perdamaian akan berdampak pada masyarakat di bawah," kata Hamdi di Jakarta, Kamis.

Karena itu, ia berharap setelah Ramadhan ini elit politik tetap bisa menahan diri serta bisa meningkatkan komitmennya untuk menjunjung tinggi ideologi bangsa Pancasila serta persatuan dan kesatuan Indonesia.

"Hanya itu yang bisa menjaga keberagaman suku dan agama di Indonesia. Apabila ada yang mengganggu, kita harus saling mengingatkan, dan orang yang mengganggu itu harus kita bawa ke jalur hukum karena telah merusak ketenteraman hidup bersama," kata dia.

Menurutnya, potensi konflik berbasis etnis dan agama di Indonesia akan selalu ada. Indonesia memang punya sejarah tentang kerukunan umat beragama yang meluas, tetapi Indonesia juga punya sejarah tentang konflik di beberapa tempat, seperti Poso, Ambon, dan Kalimantan.

"Pendewasaan berpolitik sangat perlu. Elit politik jangan memobilisasi isu-isu etnis dan agama untuk kepentingan mereka. Kita punya Pancasila sebagai perekat umat beragama dan etnis di Indonesia. Itu saja kita pegang dan perkuat, insya Allah NKRI tetap kuat," tegasnya.

Hal lain yang juga harus diwaspadai menurut dia adalah ancaman radikalisme dan terorisme terutama yang mengatasnamakan agama.

"Para pelaku terorisme selama ini sering menjadikan ideologi dan pemahaman agama yang salah sebagai senjata' melakukan aksinya, terutama pemahaman makna jihad," kata dia.

Pewarta: Sigit Pinardi
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2017