Tahun berat menghadang petani jagung Kenya

Tahun berat menghadang petani jagung Kenya

Ilustrasi (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Nairobi, Kenya (ANTARA News) - Samuel Ambuche, seorang petani jagung di Bungoma, Kenya Barat, cemas saat waktu bergulir menuju bulan September.

Bulan itu biasanya adalah musim panen, tapi saat ini, Ambuche --yang menanam jangung dan kacang di lahan seluas lima acre-- merasa yakin hasil panen tahun ini akan jelek.

Kondisi buruk sangat mempengaruhi dia dan petani lain di Kenya, dan petani jagung menghadapi beberapa rintangan pada tahun ini.

"Musim lalu, keadaan sedikit lebih baik sebab satu-satunya tantangan yang kami hadapi ialah pupuk yang jelek, yang kami perbaiki pada waktunya, tapi hujan cukup memadai. Musim ini kami telah memerangi dua tantangan besar: hujan yang tidak memadai dan ulat," katanya.

Menanam jagung telah menjadi tantangan yang sangat besar buat petani kecil di negara Afrika Timur itu. Banyak petani kecil sekarang menganggap tanaman tersebut sebagai tanaman terkutuk.

Setiap musim, Ambuche menghadapi segudang tantangan, sebagian di luar kemampuannya, dan sekarang tak mungkin baginya untuk menanam jagung, lapor Xinhua.

Kementerian Pertanian Kenya mengumumkan serbuan ulat bulu di negeri itu pada April, sekitar satu bulan sejak wabah tersebut ditemukan oleh petani.

Hewan itu telah menyerang ribuan acre di wilayah pertanian di Lembah Rift dan Kenya Barat dan sejak itu telah menyebar ke daerah lain seperti Wilayah Tengah, Nyanza dan Pantai. Hama tersebut terutama menyerang jagung.

Satu varietas tanaman lain juga menghadapi ancaman, termasuk sereal seperti kaoliang, jawawut, padi, gandum dan jelai, sehingga keamanan pangan di Kenya terancam.

Lahan rumput, sayuran, kacang polong, pisang, tomat, merica hijau, jahe, bayam, bawang, gula, bit, sitrus, mentimun dan bunga matahari juga telah diserang.

Kementerian yang bekerja sama dengan pemerintah kabupaten telah menyediakan jutaan dolar AS untuk membeli bahan kimi guna membantu petani memerangi hama tersebut.

"Saya memperoleh bahan kimia dari pemerintah kabupaten dan bahkan membeli sendiri bahan kimia lain, dan menyemprot tanaman saya, tapi hama itu muncul dan hilang. Saya menyemprot, mereka hilang selama sekitar tiga pekan, dan muncul kembali sekali lagi. Kami diberitahu, harus ada yang terus menyemprot," kata Ambuche, yang menyatakan saat ini ulat bulu telah hilang di pertanian itu.

Di sisi lain, Ambuche, seperti banyak petani lain di wilayah tersebut dan di seluruh negeri itu, harus menangani hujan yang tidak memadai sehingga mengancam petani yang berjuang.

"Saya telah kehilangan harapan untuk menanam jagung. Saya menanam jagung di lahan seluas dua acre dan sekarang semuanya telah layu akibat hujan yang tidak memadai," kata Bernard Njuguna, petani di Rongai di Nakuru.

Njuguna mulanya merasa beruntung sebab tanamannya tidak terpengaruh oleh ulat bulu, tapi hujan yang jarang turun masih menyelimuti harapannya buat panen yang berlimpah.

Nasib buruk juga dialami oleh banyak petani di negeri itu, tempat hujan turun secara tak beraturan selama dua musim terakhir.

Dan saat jagun matang buat petani yang beruntung, mereka masih harus menghadapi pasar yang buruk, kendati biaya produksi tinggi.

Musim tahun ini, biaya produksi telah berlipat sebab petani menghabiskan banyak sumber daya untuk memerangi ulat bulu. (Uu.C003)

Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Kekeringan tak pengaruhi produktivitas petani NTB

Komentar