"O Sole Mio" dengan iringan angklung di Bern

"O Sole Mio" dengan iringan angklung di Bern

Ilustrasi pelajar memainkan angklung secara massal. (ANTARA FOTO/AACC2015/M Agung Rajasa)

... merupakan alat musik yang mampu mempersatukan masyarakat dari segala penjuru dunia dengan latar belakang yang berbeda...
London (ANTARA News) - Lagu klasik Italia, O Sole Mio, dengan iringan alat musik angklung yang dibawakan warga lokal Swiss bersama diaspora Indonesia, serta perwakilan Kedutaan Besar Indonesia di Bern, bergema di hadapan ratusan pengunjung mancanegara.

Gelaran budaya Indonesia yang terbuka untuk umum itu terjadi di ruang pertemuan Dreifaltigkeitskirche, Bern, Selasa malam, seturut keterangan pejabat Penerangan dan Sosial Budaya Kedutaan Besar Indonesia di Bern, Sasanti Nordewati.

Konser angklung di bawah pimpinan Lia Fossati, warga Indonesia yang lama tinggal di Swiss diadakan dalam rangka pekan budaya dunia yang diadakan pengurus gereja Dreifaltigkeit di Bern.

Fossati juga mengajak penonton memainkan angklung secara interaktif dan membagikan angklung kepada penonton dengan membawakan lagu Morning Has Broken dari pemusik legendaris dunia, Cat Stevens.

Para penonton antusias mengikuti arahan dia, yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SD itu.

Selain O Sole Mio, Fossati juga menampilkan lagu Swiss, Hemmige, dan Ayo Mama,  yang dibawakan pemain angklung yang baru berlatih hanya dua jam sebelumnya.

Di bawah arahan dia, alunan musik dari bambu itu mampu menarik perhatian penonton. Tidak hanya mengajak masyarakat dunia melestarikan angklung, permainan angklung yang dinamis menjadi pengobar semangat kebersamaan. 

"Angklung merupakan alat musik yang mampu mempersatukan masyarakat dari segala penjuru dunia dengan latar belakang yang berbeda," ujar Fossati yang juga pendiri Perkumpulan Amukarta, wadah promosi seni budaya Indonesia di Swiss.

Dia benar, karena angklung dijadikan alat diplomasi budaya pada banyak fora internasional di Indonesia sejak masa Presiden Soekarno berkuasa. Konferensi Asia Afrika pada 1955 juga menjadi ajang angklung dimainkan para pemimpin Asia dan Afrika serta negara-negara pengamat.

UNESCO juga menetapkan angklung asal Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia, pada November 2010.

Seorang pengurus, Rene Setz, tertarik menjadikan Indonesia sebagai negara yang turut dipromosikan dalam acara tersebut. 

Dia pernah tinggal setahun di Indonesia awal dasawarsa '80-an. "Meskipun sudah 30 tahun lamanya, kenangannya akan kuliner dan kebudayaan Indonesia tidak dapat terlupakan. Saya ingat betul bagaimana saya terkesima akan arsitektur tradisional Indonesia, alunan musik gamelan, dan kelezatan mie goreng di Indonesia," kata Setz.

Selain konser angklung, pada malam hari itu, sajian masakan Indonesia juga turut dipromosikan. Setz bersama pengurus lain memasak mie goreng khas Indonesia. 

"Meskipun tidak seenak mie goreng di Indonesia, setidaknya kami berupaya," ujar dia. 

Sebagai penutup panitia menampilkan film Opera Jawa. Koleksi film milik perpustakaan di Bern, Kornhaus Bibiliothek. 

Film yang sarat akan budaya Indonesia mampu menarik perhatian penonton, yang menonton hingga selesai pada pukul 11.00 malam.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar