PPP: jangan tanggalkan identitas budaya lokal

PPP: jangan tanggalkan identitas budaya lokal

Ketua Umum PPP Romahurmuziy saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Ikatan Guru Radhatul Afthal di Banjarnegara, Minggu (13/8/2017). Dalam kesempatan tersebut Romahurmuziy berjanji PPP akan memperjuangkan aspirasi guru Radhatul Afthal. (istimewa)

Banjarnegara (ANTARA News) - Ketua Umum PPP Romahurmuziy meminta generasi muda bangsa tidak menanggalkan identitas budaya lokal ditengah pesatnya tren dan budaya asing yang masuk ke tanah air.

"Dunia semakin terintegrasi, sehingga budaya di salah satu lokasi yang mungkin dianggap tidak pantas kemudian bisa tersebar ke seluruh dunia, dan dianggap sebagai sebuah kepantasan," kata Romahurmuziy seusai menghadiri Seminar Nasional Ikatan Guru Raudhatul Athfal, di Banjarnegara, Jateng, Minggu.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa saat ini masih terjadi perang ideologi di dunia. Mereka masuk melalui kesenian, ekonomi hingga budaya.

Menurut Romahurmuziy, saat ini seluruh elemen bangsa perlu menggalakkan kembali nilai-nilai kebudayaan nasional agar generasi muda tidak kehilangan jati dirinya.

Dia mengatakan Indonesia perlu terus mengekspor nilai-nilai budaya lokal agar dikenal secara global.

Misalnya, kata dia, di bidang kuliner Indonesia bisa terus memperkenalkan Nasi Padang ke dunia internasional. Sebab, kuliner juga mengandung nilai budaya sebuah bangsa.

"Butuh peran pemerintah mendorong ekspor kuliner nasional ke internasional agar mereka turut memasarkan budaya kita," jelas Romahurmuziy.

Dia menekankan, jika Thailand mampu menghadirkan kulinernya hampir di seluruh dunia, maka Indonesia juga dapat melakukan hal serupa. Terlebih ragam kuliner nasional tidak kalah banyaknya dengan negara-negara lain di Asia.

"Ekspor budaya, dalam hal ini kuliner, membutuhkan sentuhan pemerintah agar pengusaha pemula bisa mendirikan restoran di luar negeri. Ini jangan dianggap hanya bisnis tapi itu juga cara mengenalkan budaya kita," kata Romahurmuziy.

(T.R028/Y008)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar