Setelah dikritik sana-sini, Trump barulah kutuk Ku Klux Klan

Setelah dikritik sana-sini, Trump barulah kutuk Ku Klux Klan

Suasana setelah kerusuhan di Charlottesville, Virginia ketika kelompok supremasi kulit putih bentrok dengan kelompok yang berseberangan dengan mereka pada Sabtu 11 Agustus 2017. (Reuters)

Charlottesville, Virginia (ANTARA News) - Sehari setelah dikritik berbagai kalangan karena tidak mengutuk kelompok rasial pendukung supremasi kulit putih dalam kaitannya dengan kerusuhan di Charlottesville, Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru mengeluarkan kutukan terhadap kelompok nasionalis kulit putih itu.

Menurut Gedung Putih, kutukan itu juga dialamatkan kepada Ku Klux Klan dan kelompok neo-Nazi.

Pihak berwajib AS membuka penyelidikan atas kasus kekerasan maut di Charlottesville, Virginia, yang membuat Trump ditekan untuk tegas terhadap ekstremis sayap kanan yang menjadi basis utama pendukungnya.

Seorang wanita berusia 32 tahun tewas dan 19 lainnya terluka yang lima di antaranya kritis, Sabtu pekan lalu, manakala seorang pria menabrakkan mobil ke arah kerumunan manusia yang memprotes pawai kaum nasionalis kulit putih di Charlottesville.

15 lainnya terluka saat pecah bentrokan antara nasionalis kulit putih dan penentangnya yang saling berbalas bogem mentah, batu dan semprotan merica.

Dua polisi Virginia tewas karena helikopternya jatuh saat membantu mengatasi kerusuhan itu. Menurut Wali Kota Mike Signer sekitar 1.000 petugas penegakan hukum diterjunkan untuk mengatasi kerusuhan rasial itu.

Bekas tentara AS James Alex Fields Jr. (20), pria kulit putih asal Ohio yang disebut-sebut sejak remaja dirasuki ideologi Nazi, menjadi tersangka dalam kasus ini dengan dakwaan pembunuhan.

"Penyelidikan 'kejahatan karena kebencian' terhadap insiden ini tidak terbatas kepada si pengemudi kendaraan," kata pejabat Departemen Keadilan AS "Kami akan menyelidiki apakah yang lainnya terlibat merencanakan penyerangan itu."

Para politisi lintas partai baik Demokrat maupun Republik mengkritik Trump karena terlalu lama tidak menyampaikan tanggapan atas kekerasan itu, dan karena tidak mau terbuka mengecam kelompok supremasi kulit putih yang dianggap memicu kerusuhan itu, tulis Reuters.


Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar