TNI AD garap 1.000 Hektare lahan di perbatasan Indonesia-Timor Leste

TNI AD garap 1.000 Hektare lahan di perbatasan Indonesia-Timor Leste

Dokumentasi Komandan Kodim 1618/Timor Tengah Utara, Letnan Kolonel Artileri Medan Eusebio H Rahalu (tengah berpakaian loreng), saat berfoto bersama warga Distrik Oecusse, Timor Leste, saat penutupan program Tentara Manunggal Membangun Desa ke-90, di Desa Tasinifu, Kecamatan Mutis, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur yang berjarak sekitar 300 meter dari Oecusse. (ANTARA FOTO/Laurensius Molan)

Kupang, NTT (ANTARA News) - Korem 161/Wira Sakti, berkedudukan di Kupang, NTT, sementara menggarap lahan yang luasnya ditargetkan mencapai 1.000 Hektare di wilayah NTT, garis perbatasan negara Indonesia-Timor Leste.

Terdapat 278 kilometer garis perbatasan darat negara, yang terbagi ke dalam dua wilayah, yaitu di barat antara Kabupaten Kupang dan Kabupaten TTU dengan enklave Distrik Oekusi, dan di timur antara Kabupaten Belu dengan Distrik Suai dan Distrik Bobonaro. 

"Satuan tugas kita telah diperintahkan panglima untuk mencari lahan mencapai 1.000 Hektare di sekitar wilayah perbatasan," kata Kepala Seksi Teritorial Korem 161/Wira Sakti, Kolonel Infantri Afson Sirait, di Kupang, Kamis.

Ia mengatakan, tugas itu dilakukan guna mengamankan lahan-lahan di wilayah perbatasan negara sehingga tidak diklaim atau diambil pihak negara lain sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat Indonesia.

Ia menjelaskan, sengketa perbatasan Indonesia-negara Timor Timur terkait keberadaan lahan petanian di Desa Noelbesi, Kabupaten Kupang, dengan Citrana, di Distrik Oecusse, hingga lokasi yang strategis menjadi pangkalan militer di Pulau Batek di depan Pos Lintas Batas Wini, di Kabupaten TTU, yang berbatasan dengan Distrik Oekusi.

Potensi lahan pertanian di Noelbesi, lanjutnya, cukup subur sehingga bisa menjadi incaran negara tetangga Timor Timur dalam sengketa lahan itu.

Untuk itulah, Satuan Tugas TNI diperintahkan panglima untuk menduduki lahan hingga 1.000 Hektare guna mengamankan wilayah agar tetap menjadi milik Indonesia. 

"Dan itu sudah dilakukan sekarang sudah dapat sembilan Hektare dan masih dilakukan secara bertahap hingga mencapai target itu," katanya.

Sirait memastikan, TNI akan terus meningkatkan pengamanan di wilayah perbatasan negara yang saat ini masih berstatus sengketa pada sejumlah titik seperti di Naktuka, Kabupaten Kupang, maupun beberapa lainnya di Kabupaten Timor Tengah Utara.

Menurut dia, pengamanan dilakukan dengan memaksimalkan peran Pos-pos Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Markas Besar TNI, yang jumlahnya masing-masing 19 pos di sektor barat dan 19 pos di sektor timur.

Selain itu, katanya, program TNI Manunggal Membangun Desa di kawasan terisolir di perbatasan negara juga telah disetujui Pemeintah untuk dilakukan setiap tahun.

"Programa TMMD ini sebagai bukti nyata bahwa negara hadir melalui TNI untuk masyarakat kita di perbatasan untuk bersama-sama membangun dari daerah 3T," katanya.

Kemudian upaya pengamanan juga dilakukan melalui operasi teritorial juga setiap tahun yang disetujui panglima TNI untuk menyentuh daerah-daerah garda terdepan kita, katanya.

Pewarta: Aloysius Lewokoda
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar