Titik panas di Kalbar meningkat

Titik panas di Kalbar meningkat

Arsip. Karhutla Di Muara Enim. Asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Muara Belida, Muara Enim, Sumatera Selatan, Sabtu (16/9/2017). BPBD Provinsi Sumsel terus beruapaya memadamkan Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sejak Senin (11/9/2017) didaerah tersebut dengan mengirimkan satu helikopter MI-8MTV-1 dan satu helikopter bolkow. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Jakarta (ANTARA News) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terpantau mengalami peningkatan khususnya di Kalimantan Barat (Kalbar) dengan 24 titik panas terpantau oleh satelit NOAA pada Rabu (20/9), pukul 20.00 WIB.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim Raffles B. Pandjaitan, di Jakarta, Kamis, mengatakan peningkatan titik panas di Kalimantan Barat dapat disebabkan aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan pada waktu bersamaan, meskipun terdapat batasan-batasan dalam pelaksanaannya.

Titik panas di Kalimantan Barat terpantau cukup tinggi berdasarkan satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level lebih kurang 80, yaitu sebanyak 12 titik dari total 22 titik panas yang terpantau. Sedangkan dari total 62 hotspot yang terpantau satelit TERRA AQUA (LAPAN) confidence level lebih kurang 80 persen, 46 diantaranya berada di provinsi tersebut.

Adapun penyebaran titik panas lainnya terdapat di Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan.

"Di Kalimantan Barat masih menganut kearifan lokal dengan sebutan 7T, yaitu Tebas, Tebang, Tunu, Tugal, Tanam, Tuai dan Tinggal," ujar Raffles.

Beberapa aturan kearifan lokal tersebut, antara lain diawali dengan acara adat, penyiapan sesajen, keharusan membuat sekat bakar (jika melanggar dan terjadi kebakaran, dikenakan sanksi adat), penggunaan Lemang (ketan dalam bambu) sebagai ukuran keberhasilan pembakaran, pembakaran dilakukan perorangan ataupun bersama kerabat, serta sebagian besar pembukaan lahan agar dilaksanakan di areal tanah mineral.

Raffles juga mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil temuan di lapangan, para masyarakat sudah mulai memilih metode pengolahan lahan dengan bantuan traktor dan teknologi pertanian lainnya.

Sementara itu, berdasarkan Prediksi Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) tanggal 21 September 2017, pada umumnya provinsi-provinsi di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua, berada dalam kondisi sangat mudah terbakar.

"Informasi prediksi SPBK ini harus menjadi perhatian agar dapat diantisipasi adanya potensi karhutla terutama di daerah-daerah tersebut," kata Raffles.

Pada lokasi lainnya, pemadaman kebakaran lahan gambut di Sumatera Selatan dilakukan Manggala Agni Daops Banyuasin. Kebakaran ini terjadi pada dua lokasi, yaitu di Desa Tanjung Seteko, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, seluas lebih kurang lima hektare (ha), dan di Desa Palem Raya, Kecamatan Indralaya Utara, seluas lebih kurang 4 ha.

Begitu pula halnya di Kalimantan Tengah, Manggala Agni Daops Palangka Raya berhasil memadamkan kebakaran pada lahan gambut seluas lebih kurang 1,5 ha di Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya.

Di Kalimantan Selatan, Manggala Agni Daops Tanah Bumbu melakukan pemadaman di Desa Sardangan, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu pada lahan seluas lebih kurang 40 ha. 

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar