Denpasar (ANTARA News) - Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali memasuki hari keempat sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PWMBG) Badan Geologi, Kementerian ESDM meningkatkan status menjadi awas kini aktivitasnya semakin meningkat.

Bahkan Gunung tertinggi di Bali itu sempat mengeluarkan semburan uap air atau asap putih setinggi 200 meter yang menandakan pemanasan air di bawah dengan magma semakin meningkat.

Dengan keluarnya uap air itu menandakan indikasi magma sudah semakin ke atas untuk mendobrak katup penutup kepundan serta jumlah kegempaan makin banyak dan kuat, tutur Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM Gede Suantika.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa telah terjadi intensitas kegempaan yang makin meningkat, Jumlah kegempaan vulkanik dangkal, seperti pada hari Minggu (20/9) meningkat dibandingkan dengan Sabtu (19/9).

Demikian pula kegempaan di kawah makin meningkat, namun gempa vulkanik dalam agak menurun dibanding dua hari lalu, namun yang meningkat itu vulkanik dangkal.

Bahkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Agung, pada Senin (25/9) periode pengamatan pukul 24.00 hingga 06.00 Wita, menunjukkan kegempaan vulkanik dangkal jumlahnya 102 kali, amplitudo 2-4 mm dan durasi 10-15 detik.

Sedangkan vulkanik dalam jumlahnya 125 kali, amplitudo 4-8 mm, S-P: 1.5-2.5 detik, durasi 15-30 detik. Begitu juga gempa tektonik lokal jumlahnya 14 kali, amplitudo 6-8 mm, S-P: 5-7 detik, durasi 30-60 detik.

Gunung Agung yang memiliki ketinggian 3.142 meter di atas permukaan air laut di Kabupaten Karangasem, visual gunung kini kabut 0-I hingga kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.

Begitu juga kondisi cuaca berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara 22-23 derajat Celcius dan kelembaban udara 87-88 persen. Volume curah hujan sembilan milimeter per hari.

Sejak peningkatan status Gunung Agung dari Siaga menjadi Awas , maka wilayah steril yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung itu diperluas menjadi sembilan kilometer, serta ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah Utara, Timur Laut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sehingga masyarakat telah menjauh mencari tempat yang aman.


Patuhi Instruksi Petugas

Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja dua hari di Bali, 25-26 September 2017 sempat menemui para pengungsi untuk memberikan dorongan dan semangat dalam menghadapi bencana alam tersebut di GOR Swecapura di Kabupaten Klungkung, Bali.

Kepala negara dalam kesempatan itu meminta warga di sekitar Gunung Agung untuk mematuhi instruksi seluruh petugas dalam mengantisipasi kondisi darurat meningkatnya aktivitas vulkanik gunung berapi itu.

Ia mengatajak semua masyarakat di lereng Gunung Agung, masyarakat Kabupaten Karangasem dan Bali umumnya untuk sekuat tenaga bisa meminimalkan seluruh dampak yang ada dari Gunung Agung.

Hal itu penting, karena penanganan bencana alam gunung berapi tidak mudah, mengingat tidak ada kepastian waktu, termasuk jadi atau tidaknya Gunung Agung meletus.

OLeh sebab itu tidak dapat memprediksi akurat kapan persis dan seberapa besar intensitas letusannya. Menurut Presiden Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, termasuk pemerintah kabupaten telah berupaya agar kerugian masyarakat dapat ditekan sekecil mungkin, termasuk perputaran ekonomi terhenti karena masyarakat mengungsi.

Sejak Jumat (22/9) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PWMBG) Badan Geologi, Kementerian ESDM meningkatkan status Gunung Agung menjadi awas, otomatis masyarakat sekitar gunung itu mulai menjauh mencari tempat yang aman.

Arus pengungsi terus mengalir ke berbagai tempat yang aman selain di kabupaten Karangasem sendiri juga menyebar ke tujuh kabupaten satu kota di Bali.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, warga di lereng Gunung Agung yang mengungsi hingga Selasa sing (26/9) mencapai 75.673 jiwa tersebar di 377 titik pengungsian di sembilan kabupaten/kota di Bali.

Jumlah pengungsi tersebut diperkirakan masih akan bertambah karena pendataan terus dilakukan. Pemkab Karangasem sebelumnya memperkirakan warga yang bermukim di lereng Gunung Agung dalam radius enam kilometer sebanyak 15.000 jiwa dan radius 12 kilometer sekitar 100.000 jiwa.

Jumlah pengungsi tersebut berdasarkan data yang tercatat oleh Pusdalops BPBD Provinsi Bali sampai Selasa (26/9) pukul 12.00 Wita. Pengungsi tersebut menyebar yang meliputi kabupaten Badung di sembilan titik (756 jiwa), Bangli 29 titik (4.890 jiwa), Buleleng 24 titik (8.518 jiwa), Kota Denpasar 27 titik (2.539 jiwa), Gianyar 12 titik (540 jiwa), Jembrana empat titik (82 jiwa), Kabupaten Karangasem sendiri 93 titik (37.812 jiwa), Klungkung 162 titik (19.456 jiwa), dan Tabanan 17 titik (1.080 jiwa).

Jumlah pengungsi tersebut diperkirakan lebih besar dibandingkan penduduk yang tinggal di dalam radius berbahaya yang direkomendasikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk dikosongkan.

Meskipun demikian memang sulit menentukan jumlah penduduk secara pasti. Sebab data penduduk menggunakan basis administrasi desa, sedangkan data radius menggunakan batas daerah berbahaya letusan Gunung Agung.

"Batas radius berbahaya itu mudah terlihat di peta. Di lapangan tidak nampak. Di lapangan masyarakat tidak tahu mereka tinggal di dalam radius berapa. Inilah yang menyebabkan masyarakat yang tinggal di luar garis radius berbahaya pun ikut mengungsi," ucap Sutopo.

Untungnya masyarakat Bali memiliki rasa solidaritas yang tinggi sesama warga yang ditunjukkan dengan banyaknya menawarkan rumah dan bangunannya sebagai tempat pengungsian.

Bantuan masyarakat secara swadaya juga banyak dilakukan di berbagai tempat pengungsian lainnya. Solidaritas sosial yang tinggi itu merupakan modal yang luar biasa dalam mengatasi masalah pengungsi di tempat penampungan sementara.

Masyarakat secara mandiri dan spontan saling membantu anggota masyarakat yang mengungsi, sehingga sistem gotong royong yang diwarisi secara turun temurun masyarakat Bali kini masih kental.

Solidaritas masyarakat itu layak diapresiasi dan didorong agar tidak tergantung pada bantuan pemerintah, meskipun pemerintah tetap akan memberikan bantuan kepada para pengungsi namun ada beberapa kendala di lapangan yang sangat dinamis, ujar Sutopo Purwo Nugroho.

Oleh I Ketut Sutika
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2017